BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kegiatan pembelajaran yang dibangun oleh guru dan siswa adalah kegiatan yang bertujuan. Sebagai kegiatan yang bertujuan, maka segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian dalam setting pembelajaran, tujuan merupakan pengikat segala aktivitas guru dan siswa. Oleh sebab itu, merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam merancang program pembelajaran.
Agar kegiatan belajar dan pembelajaran serta pemanfaatan seluruh sumber daya terarah untuk membantu siswa mencapai tingkat kemampuan tertentu, maka mutlak perlu ditetapkan tujuan pembelajaran. Di Indonesia aliran behavioisme telah mendominasi pengembangan kurikulum dan pengelolaan belajar dan pembelajaran. Selama bertahun-tahun pengelolaan pendidikan di Indonesia secara resmi di dasarkan pada paham behaviorisme yang terkenal dengan pendekatan PPSI atau Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional yang menggunakan rumusan tujuan pembelajaran dalam bentuk Tujuan Instruksional. Akan tetapi menurut paradigm baru, istilah ini bernuansa pendidikan yang berpusat pada guru dan erlu diubah menjadi pembelajaran yang lebih berorientasi kepada siswa sebagai pusat upaya pendidikan.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang hendak dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan tujuan pembelajaran?
2. Bagaimanakah pentingnya perumusan tujuan pembelajaran ?
3. Bagaimanakah tingkatan tujuan pendidikan?
4. Apakah yang dimaksud dengan tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus?
5. Bagaimanakah kata kerja operasional dalam rumusan tujuan pembelajaran?
6. Bagaimanakah kaitan antara tujuan pembelajaran dan Taxonomi Kemampuan?
7. Apakah yang menjadi syarat tujuan pembelajaran ?
C. TUJUAN
Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui tujuan pembelajaran?
2. Untuk mengetahui pentingnya perumusan tujuan pembelajaran.
3. Untuk mengetahui tingkatan tujuan pendidikan.
4. Untuk mengetahui tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus.
5. Untuk mengetahui kata kerja operasional dalam rumusan tujuan pembelajaran
6. Untuk mengetahui kaitan antara tujuan pembelajaran dan taxonomi kemampuan.
7. Untuk mengetahui syarat tujuan pembelajaran .
D. MANFAAT
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman penulis dan rekan-rekan mahasiswa mengenai tujuan pembelajaran pada umumnya dan tujuan pembelajaran biologi pada khususnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tujuan Pembelajaran
Salah satu sumbangan terbesar dari aliran psikologi behaviorisme terhadap pembelajaran bahwa pembelajaran seyogyanya memiliki tujuan. Gagasan perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Sejak pada tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia
Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran (Hamzah, 2008).
Walaupun terdapat perbedaan pendapat oleh para ahli mengenai tujuan pembelajaran, tetapi semuanya memberikan pemahaman yang sama, bahwa :
1. tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran;
2. tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik.
Menurut Made (2009) dalam proses pembelajaran, guru harus menetapkan terlebih dahulu tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Menurut taksonomi Bloom, secara teoritis tujuan pembelajaran dibagi atas tiga kategori, yaitu :
1. tujuan pembelajaran ranah kognitif
2. tujuan pembelajaran ranah efektif, dan
3. tujuan pembelajaran psikomotorik
Adanya perbedaan tujuan pembelajaran akan berimplikasi pula pada adanya perbedaan strategi pembelajaran yang harus ditetapkan. Jadi, dalam penerapan suatu strategi pembelajaran tidak bisa mengabaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai (Made, 2009).
Menurut Nana (2002), ada 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, baik bagi guru maupun siswa yaitu:
1. memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri;
2. memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;
3. membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran;
4. memudahkan guru mengadakan penilaian.
Dijelaskan dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Keberhasilan guru menerapkan suatu strategi pembelajaran sangat tergantung dari kemampuan guru menganalisis kondisi pembelajaran yang ada seperti tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, kendala sumber belajar, dan karakteristik bidang studi. Hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran tersebut dapat dijadikan pijakan dasar dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan. Oleh karena itu tujuan pembelajaran menjadi bagian penting dalam pembelajaran.
B. Pentingnya Perumusan Tujuan Pembelajaran
Menurut Wina (2010) kriteria keberhasilan guru diukur oleh bagaimana aktivitas siswa untuk mempelajari bahan pelajaran serta seberapa banyak materi yang telah dikuasai sehingga mampu memengaruhi pola pikir siswa, sehingga ada beberapa alasan mengapa tujuan perlu dirumuskan dalam merangcang suatu program pembelajaran, diantaranya :
1. Rumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil manakala siswa dapat mencapai tujuan secara optimal. Keberhasilan itu merupakan indicator keberhasilan guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
2. Tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa. Tujuan yang jelas dan tepat dapat membimbing siswa dalam melaksanakan aktivitas belajar. Berkaitan dengan itu, guru juga dapat merencanakan dan mempersiapkan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk membantu siswa.
3. Tujuan pembelajaran dapat membantu dalam mendesain system pembelajaran. Artinya, dengan tujuan yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan materi pelajaran, metode, dan strategi pembelajaran, alat media, dan sumber belajar, serta dalam menentukan dan merancang alat evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa.
4. Tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai control dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penetapan tujuan, guru bisa mengontrol sampai mana siswa telah menguasai kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dengan tujuan dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah.
Dengan adanya tujuan pembelajaran guru maupun siswa dapat menyiapkan diri baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap untuk mengikuti proses pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Rumusan tujuan pembelajaran yang jelas juga sangat diperlukan oleh guru dan penyelenggaraan pendidikan untuk merancang dan menyediakan administrasi, sarana dan prasarana serta dukungan lain yang diperlukan (Abdorrakhman, 2008).
C. Tujuan Pembelajaran dalam Tingkatan Tujuan Pendidikan
Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran atau disebut juga dengan tujuan instruksional, merupakan tujuan yang paling khusus. Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefenisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran ini adalah tugas guru. Sebelum guru melakukan proses belajar mengajar, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasaioleh anak didik setelah mereka selesai pelajaran (Wina, 2010).
Bagaimana hubungan setiap kalsifikasi tujuan dari tujuan umum sampai tujuan khusus, dapat dilihat pada bagan di bawah
Arah pencapaian tujuan
Tujuan Pendidikan
Tujuan Institusional
Arah pencapaian tujuan
Tujuan Kurikuler
Tujuan Pembelajaran
Gambar 1. Arah Pengembangan dan Pencapaian Tujuan Pendidikan
Bagan tersebut menjelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional yang merupakan sasaran akhir dari proses pendidikan, melahirkan tujuan-tujuan institusional atau tujuan lembaga pendidikan. Tujuan lembaga pendidikan itu selanjutnya dijabarkan ke dalam beberapa tujuan kurikuler atau tujuan bidang studi, dan kemudian dijabarkan lagi ke daam tujuan pembelajaran, atau tujuan yang harus dicapai dalam satu kali pertemuan (Wina, 2010).
Walaupun tujuan yang dirumuskan guru adalah tujuan pembelajaran, namun jangan lupa bahwa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai adalah tujuan yang ada diatasnya, yaitu tujuan kurikuler yang bersumber dari tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional. Hal ini perlu dipahami,sebab dalam implementasi proses belajar mengajar guru sering terjebak dalam pencapaian tujuan yang sangat khusus, sehingga tujuan akhir seperti tercantum dalam tujuan pendidkan nasional menjadi terabaikan (Wina, 2010).
D. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) dan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Menurut Abdorrakhman (2008), terdapat dua tujuan pembelajaran yaitu tujuan pembelajaran umum (TPU) dan tujuan pembelajaran khusus (TPK):
1. Pengertian dan Merumuskan Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan pembelajaran dapat dibedakan atas TPU adalah pernyataan tentang kemampuan atau tingkah laku siswa sebagai hasil belajar yang masih bersifat umum. Dikatakan umum disini karena kemampuan tersebut belum tegas dalam arti masih dalam bentuk kemampuan internal yang tidak teramati dan tidak terukur.
2. Pengertian dan Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus
Berbeda dengan TPU, TPK adalah pernyataan tegas tentang kemampuan atau tingkah laku sebagai hasil belajar. Yang dimaksudkan tegas disini adalah menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur (observable dan measureable) (Abdorrakhman, 2008).
E. Kata Kerja Operasional dalam Tujuan Pembelajaran
Menurut Uwes (2010) kata kerja operasional dalam tujuan pembelajaran, yaitu :
F. Kaitan Antara Tujuan Pembelajaran Dan Taxonomi Kemampuan
Dalam menuliskan tujuan pembelajaran, selain ranah kemampuan hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat atau taxon kemampuan. Namun, untuk ranah keterampilan dan sikap, sebenarnya Bloom sendiri tidak menguraikannya menurut taxonomi (Abdorrakhman, 2008).
G. Syarat Tujuan Pembelajaran
Menurut Oemar (2005) bahwa komponen-komponen yang harus terkandung dalam tujuan pembelajaran, yaitu (1) perilaku terminal, (2) kondisi-kondisi dan (3) standar ukuran. Hal senada dikemukakan Mager (Hamzah, 2008) bahwa tujuan pembelajaran sebaiknya mencakup tiga komponen utama, yaitu: (1) menyatakan apa yang seharusnya dapat dikerjakan siswa selama belajar dan kemampuan apa yang harus dikuasainya pada akhir pelajaran; (2) perlu dinyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat mendemonstrasikan perilaku tersebut; dan (3) perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat diterima.
Menurut Uwes (2010) komponen tujuan pembelajaran, yaitu :
Komponen
A
- Audience
- Siapa yang belajar
B
- Behavior
- Kemampuan yang akan dicapai
C
- Condition
- Situasi/kondisi dimana kemampuan dilakukan
D
- Degree
- Derajat keberhasilan pencapaian kemampuan
Menurut Uwes (2010) syarat tujuan pembelajaran, yaitu :
1. Menggunakan kata kerja operasional
2. Mengandung unsur A, B, C, dan D atau
3. setidak-tidaknya A, B, dan C atau A, B,dan D paling minimal mengandung A, dan B
4. Dalam penulisan modul online, minimal mengandung unsur A, B, dan C atau A, B, dan D.
Dari keempat kriteria atau komponen dalam merumuskan tujuan pembelajaran, maka sebaiknya rumusan tujuan pembelajaran mengandung unsur ABCD, yaitu Audience (siapa yang harus memiliki kemampuan), Behavior (perilaku yang bagaimana yang diharapkan dapat dimiliki), Condition (dalam kondisi dan situasi yang bagaimana subjek dapat menunjukkan kemampuan sebagai hasil belajar yang telah diperolehnya), dan Degree (kualitas atau kuantitas tingkah laku yang diharapkan dicapai sebagai batas minimal) (Wina, 2010).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam penulisan makalah ini, yaitu :
1. Seorang guru dalam merencanakan pembelajaran dituntut untuk dapat merumuskan tujuan pembelajaran secara tegas dan jelas.
2. Perumusan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu bagi guru maupun siswa
3. Tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada mahasiswa agar dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai tujuan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Chaeruman, Uwes. 2010. Desain Pembelajaran, Analisis Pembelajaran, dan
Tujuan Pembelajaran. http://teknologipendidikan.net
Gintings, Abdorrakhman. Esesnsi Praktis Belajar dan Pembelajaran.Humaniora.
Bandung.
Hamalik, Omar.2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.
Bumi Aksara. Bandung.
Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses
Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Kencana Prenada Media
Group. Jakarta.
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Syaodih Sukmadinata, Nana. 2002. Pengembangan Kurikulum: Teori dan
Praktek.PT Remaja Rosdakarya. Bandung
Uno, Hamzah B. 2008. Perencanaan Pembelajaran. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. PT Bumi
Aksara. Jakarta.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah salah satu sektor yang menjadi perhatian bagi kemajuan suatu negara, khususnya dalam era globalisasi. Melalui pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia kreatif dalam mengambil langkah antisipatif terhadap keadaan dan masalah yang muncul akibat globalisasi tersebut. Pengaruh globalisasi ini akan berdampak kepada negara secara keseluruhan, olehnya itu keseluruhan negara harus betul-betul siap dalam menghadapi segala tantangan yang semakin berat.
Pendidikan merupakan suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dunianya dalam menghadapi segala tantangan global tersebut sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan kreatif tanpa kehilangan identitas dirinya. Olehnya itu masalah pendidikan tidak akan pernah selesai sebab pada hakekatnya manusia sendiri harus selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupan. Dalam keadaan seperti itulah pendidikan tetap memerlukan inovasi yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tanpa menurunkan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga untuk menjadi bangsa yang kreatif dan maju, kita harus memacu diri untuk belajar terus-menerus dan mengembangkan sifat tekun, ulet, serta kerja keras yang tinggi.
Penggunaan media dalam belajar mengajar sangat menunjang keberhasilan tujuan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu media pengajaran yang digunakan harus dapat meningkatkan prestasi siswa dan memperkecil kesulitan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Untuk menyampaikan materi yang telah dirumuskan perlu media dengan mempertimbangan materi yang diajarkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media yang digunakan harus menarik dan inovatif sehingga dapat menarik minat siswa dalam mengajar, serta media pengajaran yang digunakan harus mengaktifkan siswa sehingga tercapai tujuan pembelajaran nasional.
Salah satu media yang dapat digunakan dalam membantu proses belajar mengajar adalah media interaktif. Teknologi Informasi menekankan pada pelaksanaan dan pemprosesan data seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi atau menampilkan data dengan menggunakan perangkat-perangkat teknologi elektronik terutama komputer. Makna teknologi informasi tersebut belum menggambarkan secara langsung kaitannya dengan sistem komunikasi, namum lebih pada pengolahan data dan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi menekankan pada penggunaan perangkat teknologi elektronika yang lebih menekankan pada aspek ketercapaian tujuan dalam proses komunikasi, sehingga data dan informasi yang diolah dengan teknologi informasi harus memenuhi kriteria komunikasi yang efektif.
Berdasarkan hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan terhadap siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba, memperlihatkan bahwa guru Biologi cenderung menerapkan metode ceramah, sehingga proses pembelajaran berpusat pada guru yang aktif menjelaskan sedangkan siswa bersifat pasif yang hanya mendengarkan dan mencatat saja. Hal ini tentu saja sangat membosankan bagi siswa itu sendiri sehingga mereka akan sulit untuk berkonsentrasi dan fikiran mereka pun melayang kemana-mana. Akibatnya hanya sedikit materi yang tersimpan dalam ingatan dan memori siswa. Padahal dalam pembelajaran biologi banyak materi yang dapat ditampilkan dengan menggunakan media interaktif ini termasuk materi jamur.
Dengan penggunaan media interaktif ini, siswa dapat dengan langsung melihat proses reproduksi jamur secara langsung tanpa perlu berkhayal lagi. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan adapun nilai rata-rata hasil ujian yang diperoleh pada ujian blok maupun ujian semester pada tahun sebelumnya, memperlihatkan hasil yang masih rendah yaitu masih banyak siswa yang memperoleh nilai 68 kebawah sementara nilai standar kelulusan yang telah ditetapkan disekolah yaitu 68 keatas.
Masalah rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa ini muncul karena kurangnya penggunaan media pembelajaran yang menyebabkan siswa sulit untuk memahami dan mengerti materi pelajaran. Selain itu juga penggunaan metode ceramah yang monoton sehingga terkadang membuat siswa jenuh dengan apa yang disampaikan oleh guru, siswa cenderung untuk bermain-main dan tidak semangat dalam kelas pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Akibatnya hanya sedikit materi yang tersimpan dalam ingatan siswa. Jika hal ini berlangsung terus-menerus dalam waktu yang lama maka minat, motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa juga akan menurun. Padahal jika ditinjau dari segi ketersediaan infrastruktur dan sarana pembelajaran sudah sangat memadai karena telah dilengkapi media visual atau proyektor (LCD) maka sangat memungkinkan dilaksanakannya penggunaan media interaktif berbasis ICT (Information Communication and Technology) yang pernah dilaksanakan oleh guru-guru khususnya Biologi di sekolah tersebut. Oleh sebab itu peneliti mencoba mengangkat judul peningkatan hasil belajar biologi siswa kelas X melalui penggunaan media intaraktif berbasis ICT di SMA Negeri 2 Bulukumba.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah dan pemecahan masalah di atas maka rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba melalui penggunaan media interaktif.
2. Bagaimana cara meningkatkan aktivitas Belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba.
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba melalui penggunaan media interaktif.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:
1. Bagi guru, melalui penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatkan profesionalisme sebagai guru utamanya melalui penggunaan media interaktif.
2. Bagi siswa, meningkatkan minat belajar siswa terhadap materi karena disajikan secara menarik dengan tampilan warna-warna yang atraktif sehingga tidak bersifat membosankan, dapat memudahkan siswa menyingkat materi yang berjumlah banyak karena materi yang disajikan dalam bentuk point-point.
3. Bagi sekolah, memberikan konstribusi yang positif terhadap sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya Biologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Definisi Media
Menurut Sadiman (2005) media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sedangkan Arsyad (1997) mengemukakan bahwa media dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Asnawir dan Usman (2002) mengemukakan bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
Media adalah kata jamak dari medium berasal dari kata latin memiliki arti perantara (between). Secara defenisi media adalah suatu perangkat yang dapat menyalurkan informasi dari sumber ke penerima informasi. Media dalam komunikasi merupakan bagian dari komponen yang tidak dapat tidak mesti ada, yaitu komunikator adalah seseorang yang menyampaikan informasi, komunikasi adalah seseorang yang menerima informasi, pesan merupakan isi yang disampaikan dalam berkomunikasi, dan media merupakan perangkat penyalur informasi. Jika satu dari empat komponen ini tidak ada, maka proses komunikasi tidak mungkin terjadi. Karena itu, media mempunyai makna jika dan hanya jika ketiga komponen lain ada. Jika tidak, maka media secara praktis dianggap tidak ada dan tidak perlu dibicarakan (Martinis dan Bansu, 2009).
Dalam dunia pendidikan, konsep komunikasi tidak banyak berbeda kecuali dalam aspek konteks berlangsungnya komunikasi itu. Dalam proses pembelajaran, sumber informasi adalah guru, siswa atau orang lain. Penerima informasi mungkin juga guru, siswa atau orang lain. Maka dalam hal ini media mendapat defenisi lebih khusus, yakni “teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm 1977 dalam Martinis dan Bansu, 2009), atau sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran (Briggs 1977 dalam Martinis dan Bansu, 2009).
Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, berdasarkan pengertian media di atas maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
2. Media Interaktif
Media Interaktif adalah media pembelajaran yang mampu mengkondisikan situasi pembelajaran menjadi kondusif sehingga siswa dapat terlibat secara aktif baik fisik maupun mental.
Proses belajar mengajar (PBM) seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam PBM. Pada era informatika visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio). Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. ICT dalam hal ini komputer dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa ,dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya. Walhasil komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi, seperti yang diinginkan. Iklim afektif ini akan melibatkan penggambaran ulang berbagai objek yang ada dalam pikiran siswa. Dan iklim inilah yang membuat tingkat retensi siswa pengguna komputer multimedia lebih tinggi dari pada bukan pengguna (Saroso, 2008 ).
Pembelajaran dengan menggunakan media interaktif memiliki banyak keuntungan dalam proses dan hasil pembelajaran yaitu :
a. Meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran, memberikan variasi terhadap pola konvensional.
b. Meningkatkan motivasi dan daya dorong untuk terus belajar sesuai dengan alur program yang ditawarkan, dengan reward yang terprogram dalam computer.
c. Dapat digunakan untuk pembelajaran secara individual, tidak terbatas pada ruang kelas, dapat digunakan dimana saja.
d. Mengakomodasikan keberagaman kemampuan siswa antar lower, middle, dan higher.
e. Dengan kemampuan multimedia yang meliputi unsur video, animasi, sounds, grafis dan teks menjadikan pembelajaran interakif menjadi lebih hidup, dan tidak membosankan bagi siswa.
f. Sesuai riset yang dilakukan oleh banyak ahli, pembelajaran interaktif secara signifikan mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara kualitas dan kuantitas.
3. Definisi Media Pembelajaran Berbasis ICT (Information and
Communication Technology)
a. Pengertian Media Pembelajaran Berbasis ICT (Information and Communication Technology)
Media berasal dari bahasa latin yaitu merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar” yaitu sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tntang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembeljaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Assosiation (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat diatas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektifitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengagan abad ke- 20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Globalisasi telah memicu kecendrungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka dalam memanfaatkan berbagai teknologi (Mukhopadhyay dalam Wardiana, 2002). Media interaktif berbasis ICT digunakan, sebab sekarang ini kita tidak dapat menghindari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang, terutama di bidang pendidikan. Untuk itu teknologi langsung yang berhubungan dengan pembelajaran adalah teknologi informasi dan komunikasi (Information Communication Technology).
Kata teknologi sering dipahami oleh orang awam sebagai sesuatu yang berupa mesin atau hal-hal yang berkaitan dengan prmesinan, namun sesungguhnya teknologi pendidikan memiliki makna yang lebih luas, karena teknologi pendidikan merupakan perpaduan dari unsur manusia, mesin, ide, prosedur, dan pengelolaannya (Hoba dalam Riyana, 2006) kemudian pengertian tersebut akan lebih jelas dengan pengertian bahwa pada hakikatnya teknologi adalah penerapan dari ilmu atau pengetahuan lain yang terorganisir ke dalam tugas-tugas praktis (Galbraith dalam Riyana, 2006). Keberadaan teknologi harus dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan efisiensi dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari masalah, sebab teknologi lahir dan dikembangkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, maka teknologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai suatu produk dan proses (Sadiman dalam Riyana, 2006). Sebagai suatu produk teknologi pendidikan mudah dipahami karena sifatnya lebih konkrit seperti radio, televisi, proyektor, OHP (Riyana, 2006).
Sebagai sebuah proses teknologi pendidikan bersifat abstrak. Dalam hal ini teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai sesuatu proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisa masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia (AECT dalam Riyana, 2006).
Menurut Riyana (2006), sebagai bagian dari pembelajaran teknologi/ICT memiliki tiga kedudukan yaitu :
1) Peran tambahan (suplemen)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), pabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran melalui ICT atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT. Sekalipun sifatnya hanya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan. Walupun materi pembelajaran melalui ICT beperan sebagai suplemen, para dosen/guru tentunya akan senantiasa mendorong, menggugah, atau menganjurkan para peserta didiknya untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT yang telah disediakan.
2) Fungsi pelengkap (komplemen)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap), apabila materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
3) Fungsi pengganti (substitusi)
Tujuan dari fungsi pengganti (subtitusi) untuk membantu mempermudah para siswa mengelola kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat menyesuaikan waktu dan aktivitas lainnya.
Gambaran menganai pengetahuan seringakali dikaitkan dengan model saluran komunikasi, dimana komunikasi dipandang sebagai pertukaran informasi melalui suatu jalur diantara pihak-pihak yang terlibat. Dari perspektif tersebut, ICT dipandang
hanya sebagai sebuah alat yang menyediakan sebagai jalur komunikasi yang baru sehingga akhirnya memajukan proses komunikasi. (Albert dan Michael, 2008).
Beberapa manfaat media pengajaran dalam bentuk kartu indeks dan soal-soal terstrktur berbasis ICT, yaitu pada proses pembelajaran adalah :
1) Dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
2) Dapat menagatasi hal-hal yang terlalu kompleks dan terlalu rumit untuk diamati.
3) Menghasilkan keseragaman pengamatan siswa terhadap sesuatu.
4) Membangkitkan keinginan dan minat belajar siswa yang baru, serta memberikan motivasi dan merangsang kegiatan belajar mengajar siswa.
5) Menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan.
6) Memperlancar pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung pada model tersebut.
7) Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa.
8) Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak yang telah mereka pelajari.
b. Pembagian media pembelajaran
Menurut Mang (2001) pembagian media pembelajaran yaitu :
1) Media/ Alat peraga komputer berupa program pelajaran internet.
2) Media/ Alat peraga perangkat nyata berupa model, peralatan kerja dan obyek.
3) Media/ Alat peraga media cetak berupa buku pelajaran, surat kabar, majalah, lembaran peraturan, kamus dan atlas.
4) Media/ Alat peraga bahan belajar/mengajar berupa plakat/poster, papan tulis, transparan, lembar kerja, buku tulis, papan peraga.
5) Media/ Alat peraga media audio-visual berupa film, video, foto transparan dan program multimedia.
Menurut Sappe (2004), dalam pelaksanaan pembelajaran, dikenal beberapa jenis media. Jenis media yang digunakan ditentukan oleh tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Arsyad (2002), mengungkapkan bahwa sejumlah media yang sering digunakan di Indonesia, yaitu (i) media tradisional, seperti (a) visual diam yang diproyeksiakan, misalnya opaquc (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan filmstrips, (b) visual yang diproyeksikan, misalnya gambar atau poster, foto, grafik atau diagram, dan pameran, (c) audio, misalnya rekaman piringan dan pita kaset, (d) penyajian multimedia, misalnya slide plus suara (tape) dan multi image, (e) visual dinamis yang diproyeksikan, misalnya film, televise, dan video, (f) cetak, misalnya buku teks, modul atau teks terprogram, workbook, majalah ilmiah atau berkala, dan lembaran lepas, (g) permainan. Misalnya teka-teki, simulasi, dan permainan papan, (h) realia, misalnya model, specimen (contoh), manipulative (peta, boneka), dan (ii) media teknologi mutakhir, seperti (a) media berbasis telekomunikasi, misalnya telekonferen, dan kuliah jarak jauh, (b) media berbasis mikroprosesor, misalnya computer-assisted instruction, permainan komputer, sistem tutor inteligen, interaktif, hypermedia, dan compact (video) disc. Ouda (2007), membagi media menjadi dua bagaian yaitu media presentasi dan media interaktif. Sedangkan Mang (2001), memilih media menjadi lima, yaitu: (i) media komputer, contoh: media pembelajaran dan internet, (ii) media cetak, contoh: buku pelajaran, surat kabar, majalah, lembaran peraturan, kamus, dan atlas, (iii) media nyata, contoh: model, peralatan kerja, dan objek, (iv) media belajar/ mengajar, contoh: plakat/ poster, papan tulis, transparan, lembar kerja, buku tulis, dan papan peraga,dan (v) media audio-visual, contoh: film, video,dia/foto transparan, dan program multimedia.
c. Fungsi media
Menurut Wankat dan Oreonovicz (1993) dalam Made (2009), menjelaskan bahwa keuntungan utama media pembelajaran berbasis ICT adalah memeberi kemudahan bagi guru dalam mengembangkan materi pembelajaran lebih lanjut. Demikian pula pembelajaran berbasis ICT memiliki beberapa keuntungan antara lain sebagai berikut :
a. Dapat mengakomodasi siswa yang lamban karena dapat menciptakan iklim belajar yang efktif dengan cara yang lebih individual.
b. Dapat merangsang siswa untuk mengerjakan latihan karena tersedianya animasi, grafis, warna dan music.
c. Kendali berada pada siswa sehingga kecepatan belajar dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan.
Menurut Sappe (2004) manfaat media dalam proses belajar mengajar yaitu:
a. Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
b. Media dapat mengatasi objek yang terlalu kecil (yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang).
c. Media dapat mengatasi gerakan yang terlalu lambat dan terlalu cepat.
d. Media dapat mengatasi hal-hal terlalu kompleks dan terlalu rumit untuk diamati.
e. Media dapat mengatasi hal-hal seperti peristiwa alam.
f. Media memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan dan masyarakat atau keadaan alamiah.
g. Media menghasilkan keseragaman pengamatan siswa terhadap sesuatu.
h. Media dapat menanamkan konsep dasar yang konkrit dan realitas.
i. Media dapat membangkitkan keinginan dam minat belajar yang baru serta membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar mengajar siswa.
Menurut Sudjana (2005), manfaat media pembelajaran bagi siswa dalam proses belajar mengajar antara lain: (i) menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; (ii) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa, dan memungkinkan siswa lebih menguasai tujuan pengajaran dengan lebih baik; (iii) metode pengajaran pun akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga dalam mengajar setiap jam pelajaran; (iv) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Media merupakan sarana yang bermanfaat bagi siswa. Beberapa manfaat media menurut Rahardjo (1991), yaitu: (i) meningkatkan motivasi belajar, (ii) memberikan variasi belajar, (iii) memberikan struktur yang memudahkan belajar, (iv) menyajikan inti informasi belajar, (v) memberikan sistematika belajar, (vi) menampilkan contoh yang selektif, dan (vii) merangsang siswa berfikir analisis. Hal ini terkait dengan materi pelajaran biologi, yang dalam proses pembelajaran kadang sulit dipahami oleh siswa, untuk menjadikan materi pelajaran yang sulit dipahami menjadi jelas dengan mudah dipahami, maka guru menggunakan media pembelajaran.
Jadi berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi media dalam proses belajar mengajar yaitu dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan tidak membosankan serta memberikan variasi dalam belajar.
4. Hasil belajar
Menurut Danim (1995), belajar merupakan suatu proses yang berlangsung secara kontinyu, dari proses itu akan diperoleh sesuatu hasil yang disebut hasil belajar. Hudoyo (1990) memberikan batasan bahwa hasil belajar adalah proses berfikir menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian interaksi yang telah diperoleh Dimyati dan Modjiono (2002) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
Sasaran dari kegiatan belajar mengajar adalah hasil belajar. Apabila proses belajar mengajar berjalan dengan baik, maka hasil belajar juga baik, artinya hasil belajar harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pengajar dalam menyelesaikan suatu masalah dan sebagai pertimbangan dalam langkah selanjutnya. Adapun pengertian hasil belajar menurut Abdurrahman (1991) adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.
Sudjana (1989) mengungkapkan bahwa hasil belajar merupakan suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional telah dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil-hasil belajar yang diperlihatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang-bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Hasil belajar merupakan prestasi yang dicapai oleh murid dalam bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukuran keberhasilan belajar seseorang. Menurut Djamarah (1996), hasil belajar merupakan prestasi dan kesan-kesan yang diperoleh sehingga mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas dalam belajar. Berdasarkan pendapat tentang hasil belajar diatas maka kegiatan belajar mengajar dapat digunakan sebagai ukuran tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam bidang tertentu.
5. Pembelajaran Konsep Jamur Dalam KTSP
Konsep jamur yang dipelajari oleh siswa kelas X merupakan salah satu materi yang terdapat kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) kelas X semester I, standar kompotensi 2 memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup, dan pada kompetensi dasar 2.4 mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan dan kajian literatur serta perananya bagi kehidupan. Konsep ini cukup sulit dijelaskan oleh guru jika tidak menggunakan media pembelajaran. Hal ini disebabkan karena materi ini kebanyakan memuat hal-hal atau objek yang kurang jelas untuk diamati secara langsung.
Pada konsep ini membahas tentang ciri-ciri yang meliputi struktur tubuh, reproduksi dan daur hidup, jenis-jenis, serta klasifikasi dari jamur. Tanpa ada penjelasan dari guru mengenai penggunaan kartu indeks dan soal-soal terstruktur berbasis ICT, siswa akan kesulitan dalam memahami materi ini. Akibatnya presentasi atau materi yang disampaikan oleh guru tanpa menggunakan media tersebut akan membuat siswa merasa bosan sehingga akan berdampak pada hasil belajar yang rendah karena kurangnya pemahaman siswa.
Oleh karena itu sangat diperlukan adanya alat bantu dalam pembelajaran yaitu penggunaan media pengajaran visual dalam bentuk kartu indeks dan soal-soal terstruktur berbasis ICT. Media ini dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan objek pengamatan yang terlalu kecil dengan kata lain mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu. Selain itu penggunaan media ini akan menarik perhatian siswa dan membuat siswa tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sampai akhir jam pelajaran.
B. KERANGKA BERPIKIR
Salah satu hal yang dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang akan diajarkan adalah penyajian materi yang lebih menarik serta komunikatif, sehingga siswa dapat memahami materi pelajaran dengan baik. Oleh karena itu, pada saat mengajar, seorang guru sebaiknya kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran terutama dalam pembelajaran biologi. Salah satu sarana pembelajaran yang dapat digunakan adalah media pembelajaran yang tepat. Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengjara oleh guru dan dapat memotivasi siwa untuk belajar lebih aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan tidak membosankan serta memberikan variasi dalam belajar.
Media visual memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan dengan memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata sehingga menumbuhkan minat belajar siswa. Penggunaan media visual dalam bentuk media interaktif dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan objek pengamatan yang terlalu kecil atau dengan kata lain dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu. Selain itu penggunaan media interaktif dapat menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa karena memberikan pengalaman belajar tersendiri bagi siswa, baik berupa kesan penglihatan ataupun kesan pendengaran, sehingga bahan yang diajarkan mudah diingat dan dipahami.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan penulis, maka dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan media interaktif berbasis Information, Communication, and Technology (ICT) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba pada konsep Jamur.
B. Saran
1. Sebaiknya dalam menyajikan materi, diharapkan selektif dalam memilih media yang tepat sesuai dengan materi yang akan diajarkan sehingga siswa lebih termotivasi dalam proses belajar yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Media interaktif dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran Biologi untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah salah satu sektor yang menjadi perhatian bagi kemajuan suatu negara, khususnya dalam era globalisasi. Melalui pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia kreatif dalam mengambil langkah antisipatif terhadap keadaan dan masalah yang muncul akibat globalisasi tersebut. Pengaruh globalisasi ini akan berdampak kepada negara secara keseluruhan, olehnya itu keseluruhan negara harus betul-betul siap dalam menghadapi segala tantangan yang semakin berat.
Pendidikan merupakan suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dunianya dalam menghadapi segala tantangan global tersebut sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan kreatif tanpa kehilangan identitas dirinya. Olehnya itu masalah pendidikan tidak akan pernah selesai sebab pada hakekatnya manusia sendiri harus selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupan. Dalam keadaan seperti itulah pendidikan tetap memerlukan inovasi yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tanpa menurunkan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga untuk menjadi bangsa yang kreatif dan maju, kita harus memacu diri untuk belajar terus-menerus dan mengembangkan sifat tekun, ulet, serta kerja keras yang tinggi.
Penggunaan media dalam belajar mengajar sangat menunjang keberhasilan tujuan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu media pengajaran yang digunakan harus dapat meningkatkan prestasi siswa dan memperkecil kesulitan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Untuk menyampaikan materi yang telah dirumuskan perlu media dengan mempertimbangan materi yang diajarkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media yang digunakan harus menarik dan inovatif sehingga dapat menarik minat siswa dalam mengajar, serta media pengajaran yang digunakan harus mengaktifkan siswa sehingga tercapai tujuan pembelajaran nasional.
Salah satu media yang dapat digunakan dalam membantu proses belajar mengajar adalah media interaktif. Teknologi Informasi menekankan pada pelaksanaan dan pemprosesan data seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi atau menampilkan data dengan menggunakan perangkat-perangkat teknologi elektronik terutama komputer. Makna teknologi informasi tersebut belum menggambarkan secara langsung kaitannya dengan sistem komunikasi, namum lebih pada pengolahan data dan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi menekankan pada penggunaan perangkat teknologi elektronika yang lebih menekankan pada aspek ketercapaian tujuan dalam proses komunikasi, sehingga data dan informasi yang diolah dengan teknologi informasi harus memenuhi kriteria komunikasi yang efektif.
Berdasarkan hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan terhadap siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba, memperlihatkan bahwa guru Biologi cenderung menerapkan metode ceramah, sehingga proses pembelajaran berpusat pada guru yang aktif menjelaskan sedangkan siswa bersifat pasif yang hanya mendengarkan dan mencatat saja. Hal ini tentu saja sangat membosankan bagi siswa itu sendiri sehingga mereka akan sulit untuk berkonsentrasi dan fikiran mereka pun melayang kemana-mana. Akibatnya hanya sedikit materi yang tersimpan dalam ingatan dan memori siswa. Padahal dalam pembelajaran biologi banyak materi yang dapat ditampilkan dengan menggunakan media interaktif ini termasuk materi jamur.
Dengan penggunaan media interaktif ini, siswa dapat dengan langsung melihat proses reproduksi jamur secara langsung tanpa perlu berkhayal lagi. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan adapun nilai rata-rata hasil ujian yang diperoleh pada ujian blok maupun ujian semester pada tahun sebelumnya, memperlihatkan hasil yang masih rendah yaitu masih banyak siswa yang memperoleh nilai 68 kebawah sementara nilai standar kelulusan yang telah ditetapkan disekolah yaitu 68 keatas.
Masalah rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa ini muncul karena kurangnya penggunaan media pembelajaran yang menyebabkan siswa sulit untuk memahami dan mengerti materi pelajaran. Selain itu juga penggunaan metode ceramah yang monoton sehingga terkadang membuat siswa jenuh dengan apa yang disampaikan oleh guru, siswa cenderung untuk bermain-main dan tidak semangat dalam kelas pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Akibatnya hanya sedikit materi yang tersimpan dalam ingatan siswa. Jika hal ini berlangsung terus-menerus dalam waktu yang lama maka minat, motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa juga akan menurun. Padahal jika ditinjau dari segi ketersediaan infrastruktur dan sarana pembelajaran sudah sangat memadai karena telah dilengkapi media visual atau proyektor (LCD) maka sangat memungkinkan dilaksanakannya penggunaan media interaktif berbasis ICT (Information Communication and Technology) yang pernah dilaksanakan oleh guru-guru khususnya Biologi di sekolah tersebut. Oleh sebab itu peneliti mencoba mengangkat judul peningkatan hasil belajar biologi siswa kelas X melalui penggunaan media intaraktif berbasis ICT di SMA Negeri 2 Bulukumba.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah dan pemecahan masalah di atas maka rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba melalui penggunaan media interaktif.
2. Bagaimana cara meningkatkan aktivitas Belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba.
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba melalui penggunaan media interaktif.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:
1. Bagi guru, melalui penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatkan profesionalisme sebagai guru utamanya melalui penggunaan media interaktif.
2. Bagi siswa, meningkatkan minat belajar siswa terhadap materi karena disajikan secara menarik dengan tampilan warna-warna yang atraktif sehingga tidak bersifat membosankan, dapat memudahkan siswa menyingkat materi yang berjumlah banyak karena materi yang disajikan dalam bentuk point-point.
3. Bagi sekolah, memberikan konstribusi yang positif terhadap sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya Biologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Definisi Media
Menurut Sadiman (2005) media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sedangkan Arsyad (1997) mengemukakan bahwa media dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Asnawir dan Usman (2002) mengemukakan bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
Media adalah kata jamak dari medium berasal dari kata latin memiliki arti perantara (between). Secara defenisi media adalah suatu perangkat yang dapat menyalurkan informasi dari sumber ke penerima informasi. Media dalam komunikasi merupakan bagian dari komponen yang tidak dapat tidak mesti ada, yaitu komunikator adalah seseorang yang menyampaikan informasi, komunikasi adalah seseorang yang menerima informasi, pesan merupakan isi yang disampaikan dalam berkomunikasi, dan media merupakan perangkat penyalur informasi. Jika satu dari empat komponen ini tidak ada, maka proses komunikasi tidak mungkin terjadi. Karena itu, media mempunyai makna jika dan hanya jika ketiga komponen lain ada. Jika tidak, maka media secara praktis dianggap tidak ada dan tidak perlu dibicarakan (Martinis dan Bansu, 2009).
Dalam dunia pendidikan, konsep komunikasi tidak banyak berbeda kecuali dalam aspek konteks berlangsungnya komunikasi itu. Dalam proses pembelajaran, sumber informasi adalah guru, siswa atau orang lain. Penerima informasi mungkin juga guru, siswa atau orang lain. Maka dalam hal ini media mendapat defenisi lebih khusus, yakni “teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm 1977 dalam Martinis dan Bansu, 2009), atau sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran (Briggs 1977 dalam Martinis dan Bansu, 2009).
Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, berdasarkan pengertian media di atas maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
2. Media Interaktif
Media Interaktif adalah media pembelajaran yang mampu mengkondisikan situasi pembelajaran menjadi kondusif sehingga siswa dapat terlibat secara aktif baik fisik maupun mental.
Proses belajar mengajar (PBM) seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam PBM. Pada era informatika visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio). Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. ICT dalam hal ini komputer dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa ,dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya. Walhasil komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi, seperti yang diinginkan. Iklim afektif ini akan melibatkan penggambaran ulang berbagai objek yang ada dalam pikiran siswa. Dan iklim inilah yang membuat tingkat retensi siswa pengguna komputer multimedia lebih tinggi dari pada bukan pengguna (Saroso, 2008 ).
Pembelajaran dengan menggunakan media interaktif memiliki banyak keuntungan dalam proses dan hasil pembelajaran yaitu :
a. Meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran, memberikan variasi terhadap pola konvensional.
b. Meningkatkan motivasi dan daya dorong untuk terus belajar sesuai dengan alur program yang ditawarkan, dengan reward yang terprogram dalam computer.
c. Dapat digunakan untuk pembelajaran secara individual, tidak terbatas pada ruang kelas, dapat digunakan dimana saja.
d. Mengakomodasikan keberagaman kemampuan siswa antar lower, middle, dan higher.
e. Dengan kemampuan multimedia yang meliputi unsur video, animasi, sounds, grafis dan teks menjadikan pembelajaran interakif menjadi lebih hidup, dan tidak membosankan bagi siswa.
f. Sesuai riset yang dilakukan oleh banyak ahli, pembelajaran interaktif secara signifikan mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara kualitas dan kuantitas.
3. Definisi Media Pembelajaran Berbasis ICT (Information and
Communication Technology)
a. Pengertian Media Pembelajaran Berbasis ICT (Information and Communication Technology)
Media berasal dari bahasa latin yaitu merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar” yaitu sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tntang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembeljaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Assosiation (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat diatas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektifitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengagan abad ke- 20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Globalisasi telah memicu kecendrungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka dalam memanfaatkan berbagai teknologi (Mukhopadhyay dalam Wardiana, 2002). Media interaktif berbasis ICT digunakan, sebab sekarang ini kita tidak dapat menghindari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang, terutama di bidang pendidikan. Untuk itu teknologi langsung yang berhubungan dengan pembelajaran adalah teknologi informasi dan komunikasi (Information Communication Technology).
Kata teknologi sering dipahami oleh orang awam sebagai sesuatu yang berupa mesin atau hal-hal yang berkaitan dengan prmesinan, namun sesungguhnya teknologi pendidikan memiliki makna yang lebih luas, karena teknologi pendidikan merupakan perpaduan dari unsur manusia, mesin, ide, prosedur, dan pengelolaannya (Hoba dalam Riyana, 2006) kemudian pengertian tersebut akan lebih jelas dengan pengertian bahwa pada hakikatnya teknologi adalah penerapan dari ilmu atau pengetahuan lain yang terorganisir ke dalam tugas-tugas praktis (Galbraith dalam Riyana, 2006). Keberadaan teknologi harus dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan efisiensi dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari masalah, sebab teknologi lahir dan dikembangkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, maka teknologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai suatu produk dan proses (Sadiman dalam Riyana, 2006). Sebagai suatu produk teknologi pendidikan mudah dipahami karena sifatnya lebih konkrit seperti radio, televisi, proyektor, OHP (Riyana, 2006).
Sebagai sebuah proses teknologi pendidikan bersifat abstrak. Dalam hal ini teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai sesuatu proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisa masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia (AECT dalam Riyana, 2006).
Menurut Riyana (2006), sebagai bagian dari pembelajaran teknologi/ICT memiliki tiga kedudukan yaitu :
1) Peran tambahan (suplemen)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), pabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran melalui ICT atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT. Sekalipun sifatnya hanya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan. Walupun materi pembelajaran melalui ICT beperan sebagai suplemen, para dosen/guru tentunya akan senantiasa mendorong, menggugah, atau menganjurkan para peserta didiknya untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT yang telah disediakan.
2) Fungsi pelengkap (komplemen)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap), apabila materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
3) Fungsi pengganti (substitusi)
Tujuan dari fungsi pengganti (subtitusi) untuk membantu mempermudah para siswa mengelola kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat menyesuaikan waktu dan aktivitas lainnya.
Gambaran menganai pengetahuan seringakali dikaitkan dengan model saluran komunikasi, dimana komunikasi dipandang sebagai pertukaran informasi melalui suatu jalur diantara pihak-pihak yang terlibat. Dari perspektif tersebut, ICT dipandang
hanya sebagai sebuah alat yang menyediakan sebagai jalur komunikasi yang baru sehingga akhirnya memajukan proses komunikasi. (Albert dan Michael, 2008).
Beberapa manfaat media pengajaran dalam bentuk kartu indeks dan soal-soal terstrktur berbasis ICT, yaitu pada proses pembelajaran adalah :
1) Dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
2) Dapat menagatasi hal-hal yang terlalu kompleks dan terlalu rumit untuk diamati.
3) Menghasilkan keseragaman pengamatan siswa terhadap sesuatu.
4) Membangkitkan keinginan dan minat belajar siswa yang baru, serta memberikan motivasi dan merangsang kegiatan belajar mengajar siswa.
5) Menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan.
6) Memperlancar pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung pada model tersebut.
7) Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa.
8) Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak yang telah mereka pelajari.
b. Pembagian media pembelajaran
Menurut Mang (2001) pembagian media pembelajaran yaitu :
1) Media/ Alat peraga komputer berupa program pelajaran internet.
2) Media/ Alat peraga perangkat nyata berupa model, peralatan kerja dan obyek.
3) Media/ Alat peraga media cetak berupa buku pelajaran, surat kabar, majalah, lembaran peraturan, kamus dan atlas.
4) Media/ Alat peraga bahan belajar/mengajar berupa plakat/poster, papan tulis, transparan, lembar kerja, buku tulis, papan peraga.
5) Media/ Alat peraga media audio-visual berupa film, video, foto transparan dan program multimedia.
Menurut Sappe (2004), dalam pelaksanaan pembelajaran, dikenal beberapa jenis media. Jenis media yang digunakan ditentukan oleh tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Arsyad (2002), mengungkapkan bahwa sejumlah media yang sering digunakan di Indonesia, yaitu (i) media tradisional, seperti (a) visual diam yang diproyeksiakan, misalnya opaquc (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan filmstrips, (b) visual yang diproyeksikan, misalnya gambar atau poster, foto, grafik atau diagram, dan pameran, (c) audio, misalnya rekaman piringan dan pita kaset, (d) penyajian multimedia, misalnya slide plus suara (tape) dan multi image, (e) visual dinamis yang diproyeksikan, misalnya film, televise, dan video, (f) cetak, misalnya buku teks, modul atau teks terprogram, workbook, majalah ilmiah atau berkala, dan lembaran lepas, (g) permainan. Misalnya teka-teki, simulasi, dan permainan papan, (h) realia, misalnya model, specimen (contoh), manipulative (peta, boneka), dan (ii) media teknologi mutakhir, seperti (a) media berbasis telekomunikasi, misalnya telekonferen, dan kuliah jarak jauh, (b) media berbasis mikroprosesor, misalnya computer-assisted instruction, permainan komputer, sistem tutor inteligen, interaktif, hypermedia, dan compact (video) disc. Ouda (2007), membagi media menjadi dua bagaian yaitu media presentasi dan media interaktif. Sedangkan Mang (2001), memilih media menjadi lima, yaitu: (i) media komputer, contoh: media pembelajaran dan internet, (ii) media cetak, contoh: buku pelajaran, surat kabar, majalah, lembaran peraturan, kamus, dan atlas, (iii) media nyata, contoh: model, peralatan kerja, dan objek, (iv) media belajar/ mengajar, contoh: plakat/ poster, papan tulis, transparan, lembar kerja, buku tulis, dan papan peraga,dan (v) media audio-visual, contoh: film, video,dia/foto transparan, dan program multimedia.
c. Fungsi media
Menurut Wankat dan Oreonovicz (1993) dalam Made (2009), menjelaskan bahwa keuntungan utama media pembelajaran berbasis ICT adalah memeberi kemudahan bagi guru dalam mengembangkan materi pembelajaran lebih lanjut. Demikian pula pembelajaran berbasis ICT memiliki beberapa keuntungan antara lain sebagai berikut :
a. Dapat mengakomodasi siswa yang lamban karena dapat menciptakan iklim belajar yang efktif dengan cara yang lebih individual.
b. Dapat merangsang siswa untuk mengerjakan latihan karena tersedianya animasi, grafis, warna dan music.
c. Kendali berada pada siswa sehingga kecepatan belajar dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan.
Menurut Sappe (2004) manfaat media dalam proses belajar mengajar yaitu:
a. Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
b. Media dapat mengatasi objek yang terlalu kecil (yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang).
c. Media dapat mengatasi gerakan yang terlalu lambat dan terlalu cepat.
d. Media dapat mengatasi hal-hal terlalu kompleks dan terlalu rumit untuk diamati.
e. Media dapat mengatasi hal-hal seperti peristiwa alam.
f. Media memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan dan masyarakat atau keadaan alamiah.
g. Media menghasilkan keseragaman pengamatan siswa terhadap sesuatu.
h. Media dapat menanamkan konsep dasar yang konkrit dan realitas.
i. Media dapat membangkitkan keinginan dam minat belajar yang baru serta membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar mengajar siswa.
Menurut Sudjana (2005), manfaat media pembelajaran bagi siswa dalam proses belajar mengajar antara lain: (i) menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; (ii) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa, dan memungkinkan siswa lebih menguasai tujuan pengajaran dengan lebih baik; (iii) metode pengajaran pun akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga dalam mengajar setiap jam pelajaran; (iv) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Media merupakan sarana yang bermanfaat bagi siswa. Beberapa manfaat media menurut Rahardjo (1991), yaitu: (i) meningkatkan motivasi belajar, (ii) memberikan variasi belajar, (iii) memberikan struktur yang memudahkan belajar, (iv) menyajikan inti informasi belajar, (v) memberikan sistematika belajar, (vi) menampilkan contoh yang selektif, dan (vii) merangsang siswa berfikir analisis. Hal ini terkait dengan materi pelajaran biologi, yang dalam proses pembelajaran kadang sulit dipahami oleh siswa, untuk menjadikan materi pelajaran yang sulit dipahami menjadi jelas dengan mudah dipahami, maka guru menggunakan media pembelajaran.
Jadi berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi media dalam proses belajar mengajar yaitu dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan tidak membosankan serta memberikan variasi dalam belajar.
4. Hasil belajar
Menurut Danim (1995), belajar merupakan suatu proses yang berlangsung secara kontinyu, dari proses itu akan diperoleh sesuatu hasil yang disebut hasil belajar. Hudoyo (1990) memberikan batasan bahwa hasil belajar adalah proses berfikir menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian interaksi yang telah diperoleh Dimyati dan Modjiono (2002) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
Sasaran dari kegiatan belajar mengajar adalah hasil belajar. Apabila proses belajar mengajar berjalan dengan baik, maka hasil belajar juga baik, artinya hasil belajar harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pengajar dalam menyelesaikan suatu masalah dan sebagai pertimbangan dalam langkah selanjutnya. Adapun pengertian hasil belajar menurut Abdurrahman (1991) adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.
Sudjana (1989) mengungkapkan bahwa hasil belajar merupakan suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional telah dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil-hasil belajar yang diperlihatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang-bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Hasil belajar merupakan prestasi yang dicapai oleh murid dalam bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukuran keberhasilan belajar seseorang. Menurut Djamarah (1996), hasil belajar merupakan prestasi dan kesan-kesan yang diperoleh sehingga mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas dalam belajar. Berdasarkan pendapat tentang hasil belajar diatas maka kegiatan belajar mengajar dapat digunakan sebagai ukuran tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam bidang tertentu.
5. Pembelajaran Konsep Jamur Dalam KTSP
Konsep jamur yang dipelajari oleh siswa kelas X merupakan salah satu materi yang terdapat kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) kelas X semester I, standar kompotensi 2 memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup, dan pada kompetensi dasar 2.4 mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan dan kajian literatur serta perananya bagi kehidupan. Konsep ini cukup sulit dijelaskan oleh guru jika tidak menggunakan media pembelajaran. Hal ini disebabkan karena materi ini kebanyakan memuat hal-hal atau objek yang kurang jelas untuk diamati secara langsung.
Pada konsep ini membahas tentang ciri-ciri yang meliputi struktur tubuh, reproduksi dan daur hidup, jenis-jenis, serta klasifikasi dari jamur. Tanpa ada penjelasan dari guru mengenai penggunaan kartu indeks dan soal-soal terstruktur berbasis ICT, siswa akan kesulitan dalam memahami materi ini. Akibatnya presentasi atau materi yang disampaikan oleh guru tanpa menggunakan media tersebut akan membuat siswa merasa bosan sehingga akan berdampak pada hasil belajar yang rendah karena kurangnya pemahaman siswa.
Oleh karena itu sangat diperlukan adanya alat bantu dalam pembelajaran yaitu penggunaan media pengajaran visual dalam bentuk kartu indeks dan soal-soal terstruktur berbasis ICT. Media ini dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan objek pengamatan yang terlalu kecil dengan kata lain mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu. Selain itu penggunaan media ini akan menarik perhatian siswa dan membuat siswa tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sampai akhir jam pelajaran.
B. KERANGKA BERPIKIR
Salah satu hal yang dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang akan diajarkan adalah penyajian materi yang lebih menarik serta komunikatif, sehingga siswa dapat memahami materi pelajaran dengan baik. Oleh karena itu, pada saat mengajar, seorang guru sebaiknya kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran terutama dalam pembelajaran biologi. Salah satu sarana pembelajaran yang dapat digunakan adalah media pembelajaran yang tepat. Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengjara oleh guru dan dapat memotivasi siwa untuk belajar lebih aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan tidak membosankan serta memberikan variasi dalam belajar.
Media visual memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan dengan memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata sehingga menumbuhkan minat belajar siswa. Penggunaan media visual dalam bentuk media interaktif dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan objek pengamatan yang terlalu kecil atau dengan kata lain dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu. Selain itu penggunaan media interaktif dapat menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa karena memberikan pengalaman belajar tersendiri bagi siswa, baik berupa kesan penglihatan ataupun kesan pendengaran, sehingga bahan yang diajarkan mudah diingat dan dipahami.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan penulis, maka dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan media interaktif berbasis Information, Communication, and Technology (ICT) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba pada konsep Jamur.
B. Saran
1. Sebaiknya dalam menyajikan materi, diharapkan selektif dalam memilih media yang tepat sesuai dengan materi yang akan diajarkan sehingga siswa lebih termotivasi dalam proses belajar yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Media interaktif dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran Biologi untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah salah satu sektor yang menjadi perhatian bagi kemajuan suatu negara, khususnya dalam era globalisasi. Melalui pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia kreatif dalam mengambil langkah antisipatif terhadap keadaan dan masalah yang muncul akibat globalisasi tersebut. Pengaruh globalisasi ini akan berdampak kepada negara secara keseluruhan, olehnya itu keseluruhan negara harus betul-betul siap dalam menghadapi segala tantangan yang semakin berat.
Pendidikan merupakan suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dunianya dalam menghadapi segala tantangan global tersebut sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan kreatif tanpa kehilangan identitas dirinya. Olehnya itu masalah pendidikan tidak akan pernah selesai sebab pada hakekatnya manusia sendiri harus selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupan. Dalam keadaan seperti itulah pendidikan tetap memerlukan inovasi yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tanpa menurunkan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga untuk menjadi bangsa yang kreatif dan maju, kita harus memacu diri untuk belajar terus-menerus dan mengembangkan sifat tekun, ulet, serta kerja keras yang tinggi.
Penggunaan media dalam belajar mengajar sangat menunjang keberhasilan tujuan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu media pengajaran yang digunakan harus dapat meningkatkan prestasi siswa dan memperkecil kesulitan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Untuk menyampaikan materi yang telah dirumuskan perlu media dengan mempertimbangan materi yang diajarkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media yang digunakan harus menarik dan inovatif sehingga dapat menarik minat siswa dalam mengajar, serta media pengajaran yang digunakan harus mengaktifkan siswa sehingga tercapai tujuan pembelajaran nasional.
Salah satu media yang dapat digunakan dalam membantu proses belajar mengajar adalah media interaktif. Teknologi Informasi menekankan pada pelaksanaan dan pemprosesan data seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi atau menampilkan data dengan menggunakan perangkat-perangkat teknologi elektronik terutama komputer. Makna teknologi informasi tersebut belum menggambarkan secara langsung kaitannya dengan sistem komunikasi, namum lebih pada pengolahan data dan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi menekankan pada penggunaan perangkat teknologi elektronika yang lebih menekankan pada aspek ketercapaian tujuan dalam proses komunikasi, sehingga data dan informasi yang diolah dengan teknologi informasi harus memenuhi kriteria komunikasi yang efektif.
Berdasarkan hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan terhadap siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba, memperlihatkan bahwa guru Biologi cenderung menerapkan metode ceramah, sehingga proses pembelajaran berpusat pada guru yang aktif menjelaskan sedangkan siswa bersifat pasif yang hanya mendengarkan dan mencatat saja. Hal ini tentu saja sangat membosankan bagi siswa itu sendiri sehingga mereka akan sulit untuk berkonsentrasi dan fikiran mereka pun melayang kemana-mana. Akibatnya hanya sedikit materi yang tersimpan dalam ingatan dan memori siswa. Padahal dalam pembelajaran biologi banyak materi yang dapat ditampilkan dengan menggunakan media interaktif ini termasuk materi jamur.
Dengan penggunaan media interaktif ini, siswa dapat dengan langsung melihat proses reproduksi jamur secara langsung tanpa perlu berkhayal lagi. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan adapun nilai rata-rata hasil ujian yang diperoleh pada ujian blok maupun ujian semester pada tahun sebelumnya, memperlihatkan hasil yang masih rendah yaitu masih banyak siswa yang memperoleh nilai 68 kebawah sementara nilai standar kelulusan yang telah ditetapkan disekolah yaitu 68 keatas.
Masalah rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa ini muncul karena kurangnya penggunaan media pembelajaran yang menyebabkan siswa sulit untuk memahami dan mengerti materi pelajaran. Selain itu juga penggunaan metode ceramah yang monoton sehingga terkadang membuat siswa jenuh dengan apa yang disampaikan oleh guru, siswa cenderung untuk bermain-main dan tidak semangat dalam kelas pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Akibatnya hanya sedikit materi yang tersimpan dalam ingatan siswa. Jika hal ini berlangsung terus-menerus dalam waktu yang lama maka minat, motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa juga akan menurun. Padahal jika ditinjau dari segi ketersediaan infrastruktur dan sarana pembelajaran sudah sangat memadai karena telah dilengkapi media visual atau proyektor (LCD) maka sangat memungkinkan dilaksanakannya penggunaan media interaktif berbasis ICT (Information Communication and Technology) yang pernah dilaksanakan oleh guru-guru khususnya Biologi di sekolah tersebut. Oleh sebab itu peneliti mencoba mengangkat judul peningkatan hasil belajar biologi siswa kelas X melalui penggunaan media intaraktif berbasis ICT di SMA Negeri 2 Bulukumba.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah dan pemecahan masalah di atas maka rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba melalui penggunaan media interaktif.
2. Bagaimana cara meningkatkan aktivitas Belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba.
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba melalui penggunaan media interaktif.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:
1. Bagi guru, melalui penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatkan profesionalisme sebagai guru utamanya melalui penggunaan media interaktif.
2. Bagi siswa, meningkatkan minat belajar siswa terhadap materi karena disajikan secara menarik dengan tampilan warna-warna yang atraktif sehingga tidak bersifat membosankan, dapat memudahkan siswa menyingkat materi yang berjumlah banyak karena materi yang disajikan dalam bentuk point-point.
3. Bagi sekolah, memberikan konstribusi yang positif terhadap sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya Biologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Definisi Media
Menurut Sadiman (2005) media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sedangkan Arsyad (1997) mengemukakan bahwa media dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Asnawir dan Usman (2002) mengemukakan bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
Media adalah kata jamak dari medium berasal dari kata latin memiliki arti perantara (between). Secara defenisi media adalah suatu perangkat yang dapat menyalurkan informasi dari sumber ke penerima informasi. Media dalam komunikasi merupakan bagian dari komponen yang tidak dapat tidak mesti ada, yaitu komunikator adalah seseorang yang menyampaikan informasi, komunikasi adalah seseorang yang menerima informasi, pesan merupakan isi yang disampaikan dalam berkomunikasi, dan media merupakan perangkat penyalur informasi. Jika satu dari empat komponen ini tidak ada, maka proses komunikasi tidak mungkin terjadi. Karena itu, media mempunyai makna jika dan hanya jika ketiga komponen lain ada. Jika tidak, maka media secara praktis dianggap tidak ada dan tidak perlu dibicarakan (Martinis dan Bansu, 2009).
Dalam dunia pendidikan, konsep komunikasi tidak banyak berbeda kecuali dalam aspek konteks berlangsungnya komunikasi itu. Dalam proses pembelajaran, sumber informasi adalah guru, siswa atau orang lain. Penerima informasi mungkin juga guru, siswa atau orang lain. Maka dalam hal ini media mendapat defenisi lebih khusus, yakni “teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm 1977 dalam Martinis dan Bansu, 2009), atau sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran (Briggs 1977 dalam Martinis dan Bansu, 2009).
Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, berdasarkan pengertian media di atas maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
2. Media Interaktif
Media Interaktif adalah media pembelajaran yang mampu mengkondisikan situasi pembelajaran menjadi kondusif sehingga siswa dapat terlibat secara aktif baik fisik maupun mental.
Proses belajar mengajar (PBM) seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam PBM. Pada era informatika visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio). Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. ICT dalam hal ini komputer dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa ,dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya. Walhasil komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi, seperti yang diinginkan. Iklim afektif ini akan melibatkan penggambaran ulang berbagai objek yang ada dalam pikiran siswa. Dan iklim inilah yang membuat tingkat retensi siswa pengguna komputer multimedia lebih tinggi dari pada bukan pengguna (Saroso, 2008 ).
Pembelajaran dengan menggunakan media interaktif memiliki banyak keuntungan dalam proses dan hasil pembelajaran yaitu :
a. Meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran, memberikan variasi terhadap pola konvensional.
b. Meningkatkan motivasi dan daya dorong untuk terus belajar sesuai dengan alur program yang ditawarkan, dengan reward yang terprogram dalam computer.
c. Dapat digunakan untuk pembelajaran secara individual, tidak terbatas pada ruang kelas, dapat digunakan dimana saja.
d. Mengakomodasikan keberagaman kemampuan siswa antar lower, middle, dan higher.
e. Dengan kemampuan multimedia yang meliputi unsur video, animasi, sounds, grafis dan teks menjadikan pembelajaran interakif menjadi lebih hidup, dan tidak membosankan bagi siswa.
f. Sesuai riset yang dilakukan oleh banyak ahli, pembelajaran interaktif secara signifikan mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara kualitas dan kuantitas.
3. Definisi Media Pembelajaran Berbasis ICT (Information and
Communication Technology)
a. Pengertian Media Pembelajaran Berbasis ICT (Information and Communication Technology)
Media berasal dari bahasa latin yaitu merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar” yaitu sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tntang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembeljaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Assosiation (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat diatas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektifitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengagan abad ke- 20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Globalisasi telah memicu kecendrungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka dalam memanfaatkan berbagai teknologi (Mukhopadhyay dalam Wardiana, 2002). Media interaktif berbasis ICT digunakan, sebab sekarang ini kita tidak dapat menghindari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang, terutama di bidang pendidikan. Untuk itu teknologi langsung yang berhubungan dengan pembelajaran adalah teknologi informasi dan komunikasi (Information Communication Technology).
Kata teknologi sering dipahami oleh orang awam sebagai sesuatu yang berupa mesin atau hal-hal yang berkaitan dengan prmesinan, namun sesungguhnya teknologi pendidikan memiliki makna yang lebih luas, karena teknologi pendidikan merupakan perpaduan dari unsur manusia, mesin, ide, prosedur, dan pengelolaannya (Hoba dalam Riyana, 2006) kemudian pengertian tersebut akan lebih jelas dengan pengertian bahwa pada hakikatnya teknologi adalah penerapan dari ilmu atau pengetahuan lain yang terorganisir ke dalam tugas-tugas praktis (Galbraith dalam Riyana, 2006). Keberadaan teknologi harus dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan efisiensi dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari masalah, sebab teknologi lahir dan dikembangkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, maka teknologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai suatu produk dan proses (Sadiman dalam Riyana, 2006). Sebagai suatu produk teknologi pendidikan mudah dipahami karena sifatnya lebih konkrit seperti radio, televisi, proyektor, OHP (Riyana, 2006).
Sebagai sebuah proses teknologi pendidikan bersifat abstrak. Dalam hal ini teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai sesuatu proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisa masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia (AECT dalam Riyana, 2006).
Menurut Riyana (2006), sebagai bagian dari pembelajaran teknologi/ICT memiliki tiga kedudukan yaitu :
1) Peran tambahan (suplemen)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), pabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran melalui ICT atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT. Sekalipun sifatnya hanya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan. Walupun materi pembelajaran melalui ICT beperan sebagai suplemen, para dosen/guru tentunya akan senantiasa mendorong, menggugah, atau menganjurkan para peserta didiknya untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT yang telah disediakan.
2) Fungsi pelengkap (komplemen)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap), apabila materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
3) Fungsi pengganti (substitusi)
Tujuan dari fungsi pengganti (subtitusi) untuk membantu mempermudah para siswa mengelola kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat menyesuaikan waktu dan aktivitas lainnya.
Gambaran menganai pengetahuan seringakali dikaitkan dengan model saluran komunikasi, dimana komunikasi dipandang sebagai pertukaran informasi melalui suatu jalur diantara pihak-pihak yang terlibat. Dari perspektif tersebut, ICT dipandang
hanya sebagai sebuah alat yang menyediakan sebagai jalur komunikasi yang baru sehingga akhirnya memajukan proses komunikasi. (Albert dan Michael, 2008).
Beberapa manfaat media pengajaran dalam bentuk kartu indeks dan soal-soal terstrktur berbasis ICT, yaitu pada proses pembelajaran adalah :
1) Dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
2) Dapat menagatasi hal-hal yang terlalu kompleks dan terlalu rumit untuk diamati.
3) Menghasilkan keseragaman pengamatan siswa terhadap sesuatu.
4) Membangkitkan keinginan dan minat belajar siswa yang baru, serta memberikan motivasi dan merangsang kegiatan belajar mengajar siswa.
5) Menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan.
6) Memperlancar pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung pada model tersebut.
7) Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa.
8) Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak yang telah mereka pelajari.
b. Pembagian media pembelajaran
Menurut Mang (2001) pembagian media pembelajaran yaitu :
1) Media/ Alat peraga komputer berupa program pelajaran internet.
2) Media/ Alat peraga perangkat nyata berupa model, peralatan kerja dan obyek.
3) Media/ Alat peraga media cetak berupa buku pelajaran, surat kabar, majalah, lembaran peraturan, kamus dan atlas.
4) Media/ Alat peraga bahan belajar/mengajar berupa plakat/poster, papan tulis, transparan, lembar kerja, buku tulis, papan peraga.
5) Media/ Alat peraga media audio-visual berupa film, video, foto transparan dan program multimedia.
Menurut Sappe (2004), dalam pelaksanaan pembelajaran, dikenal beberapa jenis media. Jenis media yang digunakan ditentukan oleh tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Arsyad (2002), mengungkapkan bahwa sejumlah media yang sering digunakan di Indonesia, yaitu (i) media tradisional, seperti (a) visual diam yang diproyeksiakan, misalnya opaquc (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan filmstrips, (b) visual yang diproyeksikan, misalnya gambar atau poster, foto, grafik atau diagram, dan pameran, (c) audio, misalnya rekaman piringan dan pita kaset, (d) penyajian multimedia, misalnya slide plus suara (tape) dan multi image, (e) visual dinamis yang diproyeksikan, misalnya film, televise, dan video, (f) cetak, misalnya buku teks, modul atau teks terprogram, workbook, majalah ilmiah atau berkala, dan lembaran lepas, (g) permainan. Misalnya teka-teki, simulasi, dan permainan papan, (h) realia, misalnya model, specimen (contoh), manipulative (peta, boneka), dan (ii) media teknologi mutakhir, seperti (a) media berbasis telekomunikasi, misalnya telekonferen, dan kuliah jarak jauh, (b) media berbasis mikroprosesor, misalnya computer-assisted instruction, permainan komputer, sistem tutor inteligen, interaktif, hypermedia, dan compact (video) disc. Ouda (2007), membagi media menjadi dua bagaian yaitu media presentasi dan media interaktif. Sedangkan Mang (2001), memilih media menjadi lima, yaitu: (i) media komputer, contoh: media pembelajaran dan internet, (ii) media cetak, contoh: buku pelajaran, surat kabar, majalah, lembaran peraturan, kamus, dan atlas, (iii) media nyata, contoh: model, peralatan kerja, dan objek, (iv) media belajar/ mengajar, contoh: plakat/ poster, papan tulis, transparan, lembar kerja, buku tulis, dan papan peraga,dan (v) media audio-visual, contoh: film, video,dia/foto transparan, dan program multimedia.
c. Fungsi media
Menurut Wankat dan Oreonovicz (1993) dalam Made (2009), menjelaskan bahwa keuntungan utama media pembelajaran berbasis ICT adalah memeberi kemudahan bagi guru dalam mengembangkan materi pembelajaran lebih lanjut. Demikian pula pembelajaran berbasis ICT memiliki beberapa keuntungan antara lain sebagai berikut :
a. Dapat mengakomodasi siswa yang lamban karena dapat menciptakan iklim belajar yang efktif dengan cara yang lebih individual.
b. Dapat merangsang siswa untuk mengerjakan latihan karena tersedianya animasi, grafis, warna dan music.
c. Kendali berada pada siswa sehingga kecepatan belajar dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan.
Menurut Sappe (2004) manfaat media dalam proses belajar mengajar yaitu:
a. Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
b. Media dapat mengatasi objek yang terlalu kecil (yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang).
c. Media dapat mengatasi gerakan yang terlalu lambat dan terlalu cepat.
d. Media dapat mengatasi hal-hal terlalu kompleks dan terlalu rumit untuk diamati.
e. Media dapat mengatasi hal-hal seperti peristiwa alam.
f. Media memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan dan masyarakat atau keadaan alamiah.
g. Media menghasilkan keseragaman pengamatan siswa terhadap sesuatu.
h. Media dapat menanamkan konsep dasar yang konkrit dan realitas.
i. Media dapat membangkitkan keinginan dam minat belajar yang baru serta membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar mengajar siswa.
Menurut Sudjana (2005), manfaat media pembelajaran bagi siswa dalam proses belajar mengajar antara lain: (i) menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; (ii) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa, dan memungkinkan siswa lebih menguasai tujuan pengajaran dengan lebih baik; (iii) metode pengajaran pun akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga dalam mengajar setiap jam pelajaran; (iv) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Media merupakan sarana yang bermanfaat bagi siswa. Beberapa manfaat media menurut Rahardjo (1991), yaitu: (i) meningkatkan motivasi belajar, (ii) memberikan variasi belajar, (iii) memberikan struktur yang memudahkan belajar, (iv) menyajikan inti informasi belajar, (v) memberikan sistematika belajar, (vi) menampilkan contoh yang selektif, dan (vii) merangsang siswa berfikir analisis. Hal ini terkait dengan materi pelajaran biologi, yang dalam proses pembelajaran kadang sulit dipahami oleh siswa, untuk menjadikan materi pelajaran yang sulit dipahami menjadi jelas dengan mudah dipahami, maka guru menggunakan media pembelajaran.
Jadi berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi media dalam proses belajar mengajar yaitu dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan tidak membosankan serta memberikan variasi dalam belajar.
4. Hasil belajar
Menurut Danim (1995), belajar merupakan suatu proses yang berlangsung secara kontinyu, dari proses itu akan diperoleh sesuatu hasil yang disebut hasil belajar. Hudoyo (1990) memberikan batasan bahwa hasil belajar adalah proses berfikir menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian interaksi yang telah diperoleh Dimyati dan Modjiono (2002) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
Sasaran dari kegiatan belajar mengajar adalah hasil belajar. Apabila proses belajar mengajar berjalan dengan baik, maka hasil belajar juga baik, artinya hasil belajar harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pengajar dalam menyelesaikan suatu masalah dan sebagai pertimbangan dalam langkah selanjutnya. Adapun pengertian hasil belajar menurut Abdurrahman (1991) adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.
Sudjana (1989) mengungkapkan bahwa hasil belajar merupakan suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional telah dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil-hasil belajar yang diperlihatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang-bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Hasil belajar merupakan prestasi yang dicapai oleh murid dalam bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukuran keberhasilan belajar seseorang. Menurut Djamarah (1996), hasil belajar merupakan prestasi dan kesan-kesan yang diperoleh sehingga mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas dalam belajar. Berdasarkan pendapat tentang hasil belajar diatas maka kegiatan belajar mengajar dapat digunakan sebagai ukuran tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam bidang tertentu.
5. Pembelajaran Konsep Jamur Dalam KTSP
Konsep jamur yang dipelajari oleh siswa kelas X merupakan salah satu materi yang terdapat kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) kelas X semester I, standar kompotensi 2 memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup, dan pada kompetensi dasar 2.4 mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan dan kajian literatur serta perananya bagi kehidupan. Konsep ini cukup sulit dijelaskan oleh guru jika tidak menggunakan media pembelajaran. Hal ini disebabkan karena materi ini kebanyakan memuat hal-hal atau objek yang kurang jelas untuk diamati secara langsung.
Pada konsep ini membahas tentang ciri-ciri yang meliputi struktur tubuh, reproduksi dan daur hidup, jenis-jenis, serta klasifikasi dari jamur. Tanpa ada penjelasan dari guru mengenai penggunaan kartu indeks dan soal-soal terstruktur berbasis ICT, siswa akan kesulitan dalam memahami materi ini. Akibatnya presentasi atau materi yang disampaikan oleh guru tanpa menggunakan media tersebut akan membuat siswa merasa bosan sehingga akan berdampak pada hasil belajar yang rendah karena kurangnya pemahaman siswa.
Oleh karena itu sangat diperlukan adanya alat bantu dalam pembelajaran yaitu penggunaan media pengajaran visual dalam bentuk kartu indeks dan soal-soal terstruktur berbasis ICT. Media ini dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan objek pengamatan yang terlalu kecil dengan kata lain mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu. Selain itu penggunaan media ini akan menarik perhatian siswa dan membuat siswa tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sampai akhir jam pelajaran.
B. KERANGKA BERPIKIR
Salah satu hal yang dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang akan diajarkan adalah penyajian materi yang lebih menarik serta komunikatif, sehingga siswa dapat memahami materi pelajaran dengan baik. Oleh karena itu, pada saat mengajar, seorang guru sebaiknya kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran terutama dalam pembelajaran biologi. Salah satu sarana pembelajaran yang dapat digunakan adalah media pembelajaran yang tepat. Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengjara oleh guru dan dapat memotivasi siwa untuk belajar lebih aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan tidak membosankan serta memberikan variasi dalam belajar.
Media visual memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan dengan memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata sehingga menumbuhkan minat belajar siswa. Penggunaan media visual dalam bentuk media interaktif dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan objek pengamatan yang terlalu kecil atau dengan kata lain dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu. Selain itu penggunaan media interaktif dapat menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa karena memberikan pengalaman belajar tersendiri bagi siswa, baik berupa kesan penglihatan ataupun kesan pendengaran, sehingga bahan yang diajarkan mudah diingat dan dipahami.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan penulis, maka dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan media interaktif berbasis Information, Communication, and Technology (ICT) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba pada konsep Jamur.
B. Saran
1. Sebaiknya dalam menyajikan materi, diharapkan selektif dalam memilih media yang tepat sesuai dengan materi yang akan diajarkan sehingga siswa lebih termotivasi dalam proses belajar yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Media interaktif dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran Biologi untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah salah satu sektor yang menjadi perhatian bagi kemajuan suatu negara, khususnya dalam era globalisasi. Melalui pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia kreatif dalam mengambil langkah antisipatif terhadap keadaan dan masalah yang muncul akibat globalisasi tersebut. Pengaruh globalisasi ini akan berdampak kepada negara secara keseluruhan, olehnya itu keseluruhan negara harus betul-betul siap dalam menghadapi segala tantangan yang semakin berat.
Pendidikan merupakan suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dunianya dalam menghadapi segala tantangan global tersebut sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan kreatif tanpa kehilangan identitas dirinya. Olehnya itu masalah pendidikan tidak akan pernah selesai sebab pada hakekatnya manusia sendiri harus selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupan. Dalam keadaan seperti itulah pendidikan tetap memerlukan inovasi yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tanpa menurunkan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga untuk menjadi bangsa yang kreatif dan maju, kita harus memacu diri untuk belajar terus-menerus dan mengembangkan sifat tekun, ulet, serta kerja keras yang tinggi.
Penggunaan media dalam belajar mengajar sangat menunjang keberhasilan tujuan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu media pengajaran yang digunakan harus dapat meningkatkan prestasi siswa dan memperkecil kesulitan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Untuk menyampaikan materi yang telah dirumuskan perlu media dengan mempertimbangan materi yang diajarkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media yang digunakan harus menarik dan inovatif sehingga dapat menarik minat siswa dalam mengajar, serta media pengajaran yang digunakan harus mengaktifkan siswa sehingga tercapai tujuan pembelajaran nasional.
Salah satu media yang dapat digunakan dalam membantu proses belajar mengajar adalah media interaktif. Teknologi Informasi menekankan pada pelaksanaan dan pemprosesan data seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi atau menampilkan data dengan menggunakan perangkat-perangkat teknologi elektronik terutama komputer. Makna teknologi informasi tersebut belum menggambarkan secara langsung kaitannya dengan sistem komunikasi, namum lebih pada pengolahan data dan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi menekankan pada penggunaan perangkat teknologi elektronika yang lebih menekankan pada aspek ketercapaian tujuan dalam proses komunikasi, sehingga data dan informasi yang diolah dengan teknologi informasi harus memenuhi kriteria komunikasi yang efektif.
Berdasarkan hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan terhadap siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba, memperlihatkan bahwa guru Biologi cenderung menerapkan metode ceramah, sehingga proses pembelajaran berpusat pada guru yang aktif menjelaskan sedangkan siswa bersifat pasif yang hanya mendengarkan dan mencatat saja. Hal ini tentu saja sangat membosankan bagi siswa itu sendiri sehingga mereka akan sulit untuk berkonsentrasi dan fikiran mereka pun melayang kemana-mana. Akibatnya hanya sedikit materi yang tersimpan dalam ingatan dan memori siswa. Padahal dalam pembelajaran biologi banyak materi yang dapat ditampilkan dengan menggunakan media interaktif ini termasuk materi jamur.
Dengan penggunaan media interaktif ini, siswa dapat dengan langsung melihat proses reproduksi jamur secara langsung tanpa perlu berkhayal lagi. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan adapun nilai rata-rata hasil ujian yang diperoleh pada ujian blok maupun ujian semester pada tahun sebelumnya, memperlihatkan hasil yang masih rendah yaitu masih banyak siswa yang memperoleh nilai 68 kebawah sementara nilai standar kelulusan yang telah ditetapkan disekolah yaitu 68 keatas.
Masalah rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa ini muncul karena kurangnya penggunaan media pembelajaran yang menyebabkan siswa sulit untuk memahami dan mengerti materi pelajaran. Selain itu juga penggunaan metode ceramah yang monoton sehingga terkadang membuat siswa jenuh dengan apa yang disampaikan oleh guru, siswa cenderung untuk bermain-main dan tidak semangat dalam kelas pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Akibatnya hanya sedikit materi yang tersimpan dalam ingatan siswa. Jika hal ini berlangsung terus-menerus dalam waktu yang lama maka minat, motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa juga akan menurun. Padahal jika ditinjau dari segi ketersediaan infrastruktur dan sarana pembelajaran sudah sangat memadai karena telah dilengkapi media visual atau proyektor (LCD) maka sangat memungkinkan dilaksanakannya penggunaan media interaktif berbasis ICT (Information Communication and Technology) yang pernah dilaksanakan oleh guru-guru khususnya Biologi di sekolah tersebut. Oleh sebab itu peneliti mencoba mengangkat judul peningkatan hasil belajar biologi siswa kelas X melalui penggunaan media intaraktif berbasis ICT di SMA Negeri 2 Bulukumba.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah dan pemecahan masalah di atas maka rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar Biologi siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba melalui penggunaan media interaktif.
2. Bagaimana cara meningkatkan aktivitas Belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba.
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba melalui penggunaan media interaktif.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:
1. Bagi guru, melalui penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatkan profesionalisme sebagai guru utamanya melalui penggunaan media interaktif.
2. Bagi siswa, meningkatkan minat belajar siswa terhadap materi karena disajikan secara menarik dengan tampilan warna-warna yang atraktif sehingga tidak bersifat membosankan, dapat memudahkan siswa menyingkat materi yang berjumlah banyak karena materi yang disajikan dalam bentuk point-point.
3. Bagi sekolah, memberikan konstribusi yang positif terhadap sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya Biologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Definisi Media
Menurut Sadiman (2005) media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sedangkan Arsyad (1997) mengemukakan bahwa media dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Asnawir dan Usman (2002) mengemukakan bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
Media adalah kata jamak dari medium berasal dari kata latin memiliki arti perantara (between). Secara defenisi media adalah suatu perangkat yang dapat menyalurkan informasi dari sumber ke penerima informasi. Media dalam komunikasi merupakan bagian dari komponen yang tidak dapat tidak mesti ada, yaitu komunikator adalah seseorang yang menyampaikan informasi, komunikasi adalah seseorang yang menerima informasi, pesan merupakan isi yang disampaikan dalam berkomunikasi, dan media merupakan perangkat penyalur informasi. Jika satu dari empat komponen ini tidak ada, maka proses komunikasi tidak mungkin terjadi. Karena itu, media mempunyai makna jika dan hanya jika ketiga komponen lain ada. Jika tidak, maka media secara praktis dianggap tidak ada dan tidak perlu dibicarakan (Martinis dan Bansu, 2009).
Dalam dunia pendidikan, konsep komunikasi tidak banyak berbeda kecuali dalam aspek konteks berlangsungnya komunikasi itu. Dalam proses pembelajaran, sumber informasi adalah guru, siswa atau orang lain. Penerima informasi mungkin juga guru, siswa atau orang lain. Maka dalam hal ini media mendapat defenisi lebih khusus, yakni “teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm 1977 dalam Martinis dan Bansu, 2009), atau sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran (Briggs 1977 dalam Martinis dan Bansu, 2009).
Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, berdasarkan pengertian media di atas maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
2. Media Interaktif
Media Interaktif adalah media pembelajaran yang mampu mengkondisikan situasi pembelajaran menjadi kondusif sehingga siswa dapat terlibat secara aktif baik fisik maupun mental.
Proses belajar mengajar (PBM) seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam PBM. Pada era informatika visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio). Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. ICT dalam hal ini komputer dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa ,dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya. Walhasil komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi, seperti yang diinginkan. Iklim afektif ini akan melibatkan penggambaran ulang berbagai objek yang ada dalam pikiran siswa. Dan iklim inilah yang membuat tingkat retensi siswa pengguna komputer multimedia lebih tinggi dari pada bukan pengguna (Saroso, 2008 ).
Pembelajaran dengan menggunakan media interaktif memiliki banyak keuntungan dalam proses dan hasil pembelajaran yaitu :
a. Meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran, memberikan variasi terhadap pola konvensional.
b. Meningkatkan motivasi dan daya dorong untuk terus belajar sesuai dengan alur program yang ditawarkan, dengan reward yang terprogram dalam computer.
c. Dapat digunakan untuk pembelajaran secara individual, tidak terbatas pada ruang kelas, dapat digunakan dimana saja.
d. Mengakomodasikan keberagaman kemampuan siswa antar lower, middle, dan higher.
e. Dengan kemampuan multimedia yang meliputi unsur video, animasi, sounds, grafis dan teks menjadikan pembelajaran interakif menjadi lebih hidup, dan tidak membosankan bagi siswa.
f. Sesuai riset yang dilakukan oleh banyak ahli, pembelajaran interaktif secara signifikan mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara kualitas dan kuantitas.
3. Definisi Media Pembelajaran Berbasis ICT (Information and
Communication Technology)
a. Pengertian Media Pembelajaran Berbasis ICT (Information and Communication Technology)
Media berasal dari bahasa latin yaitu merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar” yaitu sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tntang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembeljaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Assosiation (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat diatas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektifitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengagan abad ke- 20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Globalisasi telah memicu kecendrungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka dalam memanfaatkan berbagai teknologi (Mukhopadhyay dalam Wardiana, 2002). Media interaktif berbasis ICT digunakan, sebab sekarang ini kita tidak dapat menghindari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang, terutama di bidang pendidikan. Untuk itu teknologi langsung yang berhubungan dengan pembelajaran adalah teknologi informasi dan komunikasi (Information Communication Technology).
Kata teknologi sering dipahami oleh orang awam sebagai sesuatu yang berupa mesin atau hal-hal yang berkaitan dengan prmesinan, namun sesungguhnya teknologi pendidikan memiliki makna yang lebih luas, karena teknologi pendidikan merupakan perpaduan dari unsur manusia, mesin, ide, prosedur, dan pengelolaannya (Hoba dalam Riyana, 2006) kemudian pengertian tersebut akan lebih jelas dengan pengertian bahwa pada hakikatnya teknologi adalah penerapan dari ilmu atau pengetahuan lain yang terorganisir ke dalam tugas-tugas praktis (Galbraith dalam Riyana, 2006). Keberadaan teknologi harus dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan efisiensi dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari masalah, sebab teknologi lahir dan dikembangkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, maka teknologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai suatu produk dan proses (Sadiman dalam Riyana, 2006). Sebagai suatu produk teknologi pendidikan mudah dipahami karena sifatnya lebih konkrit seperti radio, televisi, proyektor, OHP (Riyana, 2006).
Sebagai sebuah proses teknologi pendidikan bersifat abstrak. Dalam hal ini teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai sesuatu proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisa masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia (AECT dalam Riyana, 2006).
Menurut Riyana (2006), sebagai bagian dari pembelajaran teknologi/ICT memiliki tiga kedudukan yaitu :
1) Peran tambahan (suplemen)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), pabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran melalui ICT atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT. Sekalipun sifatnya hanya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan. Walupun materi pembelajaran melalui ICT beperan sebagai suplemen, para dosen/guru tentunya akan senantiasa mendorong, menggugah, atau menganjurkan para peserta didiknya untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT yang telah disediakan.
2) Fungsi pelengkap (komplemen)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap), apabila materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
3) Fungsi pengganti (substitusi)
Tujuan dari fungsi pengganti (subtitusi) untuk membantu mempermudah para siswa mengelola kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat menyesuaikan waktu dan aktivitas lainnya.
Gambaran menganai pengetahuan seringakali dikaitkan dengan model saluran komunikasi, dimana komunikasi dipandang sebagai pertukaran informasi melalui suatu jalur diantara pihak-pihak yang terlibat. Dari perspektif tersebut, ICT dipandang
hanya sebagai sebuah alat yang menyediakan sebagai jalur komunikasi yang baru sehingga akhirnya memajukan proses komunikasi. (Albert dan Michael, 2008).
Beberapa manfaat media pengajaran dalam bentuk kartu indeks dan soal-soal terstrktur berbasis ICT, yaitu pada proses pembelajaran adalah :
1) Dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
2) Dapat menagatasi hal-hal yang terlalu kompleks dan terlalu rumit untuk diamati.
3) Menghasilkan keseragaman pengamatan siswa terhadap sesuatu.
4) Membangkitkan keinginan dan minat belajar siswa yang baru, serta memberikan motivasi dan merangsang kegiatan belajar mengajar siswa.
5) Menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan.
6) Memperlancar pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung pada model tersebut.
7) Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa.
8) Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak yang telah mereka pelajari.
b. Pembagian media pembelajaran
Menurut Mang (2001) pembagian media pembelajaran yaitu :
1) Media/ Alat peraga komputer berupa program pelajaran internet.
2) Media/ Alat peraga perangkat nyata berupa model, peralatan kerja dan obyek.
3) Media/ Alat peraga media cetak berupa buku pelajaran, surat kabar, majalah, lembaran peraturan, kamus dan atlas.
4) Media/ Alat peraga bahan belajar/mengajar berupa plakat/poster, papan tulis, transparan, lembar kerja, buku tulis, papan peraga.
5) Media/ Alat peraga media audio-visual berupa film, video, foto transparan dan program multimedia.
Menurut Sappe (2004), dalam pelaksanaan pembelajaran, dikenal beberapa jenis media. Jenis media yang digunakan ditentukan oleh tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Arsyad (2002), mengungkapkan bahwa sejumlah media yang sering digunakan di Indonesia, yaitu (i) media tradisional, seperti (a) visual diam yang diproyeksiakan, misalnya opaquc (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan filmstrips, (b) visual yang diproyeksikan, misalnya gambar atau poster, foto, grafik atau diagram, dan pameran, (c) audio, misalnya rekaman piringan dan pita kaset, (d) penyajian multimedia, misalnya slide plus suara (tape) dan multi image, (e) visual dinamis yang diproyeksikan, misalnya film, televise, dan video, (f) cetak, misalnya buku teks, modul atau teks terprogram, workbook, majalah ilmiah atau berkala, dan lembaran lepas, (g) permainan. Misalnya teka-teki, simulasi, dan permainan papan, (h) realia, misalnya model, specimen (contoh), manipulative (peta, boneka), dan (ii) media teknologi mutakhir, seperti (a) media berbasis telekomunikasi, misalnya telekonferen, dan kuliah jarak jauh, (b) media berbasis mikroprosesor, misalnya computer-assisted instruction, permainan komputer, sistem tutor inteligen, interaktif, hypermedia, dan compact (video) disc. Ouda (2007), membagi media menjadi dua bagaian yaitu media presentasi dan media interaktif. Sedangkan Mang (2001), memilih media menjadi lima, yaitu: (i) media komputer, contoh: media pembelajaran dan internet, (ii) media cetak, contoh: buku pelajaran, surat kabar, majalah, lembaran peraturan, kamus, dan atlas, (iii) media nyata, contoh: model, peralatan kerja, dan objek, (iv) media belajar/ mengajar, contoh: plakat/ poster, papan tulis, transparan, lembar kerja, buku tulis, dan papan peraga,dan (v) media audio-visual, contoh: film, video,dia/foto transparan, dan program multimedia.
c. Fungsi media
Menurut Wankat dan Oreonovicz (1993) dalam Made (2009), menjelaskan bahwa keuntungan utama media pembelajaran berbasis ICT adalah memeberi kemudahan bagi guru dalam mengembangkan materi pembelajaran lebih lanjut. Demikian pula pembelajaran berbasis ICT memiliki beberapa keuntungan antara lain sebagai berikut :
a. Dapat mengakomodasi siswa yang lamban karena dapat menciptakan iklim belajar yang efktif dengan cara yang lebih individual.
b. Dapat merangsang siswa untuk mengerjakan latihan karena tersedianya animasi, grafis, warna dan music.
c. Kendali berada pada siswa sehingga kecepatan belajar dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan.
Menurut Sappe (2004) manfaat media dalam proses belajar mengajar yaitu:
a. Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
b. Media dapat mengatasi objek yang terlalu kecil (yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang).
c. Media dapat mengatasi gerakan yang terlalu lambat dan terlalu cepat.
d. Media dapat mengatasi hal-hal terlalu kompleks dan terlalu rumit untuk diamati.
e. Media dapat mengatasi hal-hal seperti peristiwa alam.
f. Media memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan dan masyarakat atau keadaan alamiah.
g. Media menghasilkan keseragaman pengamatan siswa terhadap sesuatu.
h. Media dapat menanamkan konsep dasar yang konkrit dan realitas.
i. Media dapat membangkitkan keinginan dam minat belajar yang baru serta membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar mengajar siswa.
Menurut Sudjana (2005), manfaat media pembelajaran bagi siswa dalam proses belajar mengajar antara lain: (i) menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; (ii) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa, dan memungkinkan siswa lebih menguasai tujuan pengajaran dengan lebih baik; (iii) metode pengajaran pun akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga dalam mengajar setiap jam pelajaran; (iv) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Media merupakan sarana yang bermanfaat bagi siswa. Beberapa manfaat media menurut Rahardjo (1991), yaitu: (i) meningkatkan motivasi belajar, (ii) memberikan variasi belajar, (iii) memberikan struktur yang memudahkan belajar, (iv) menyajikan inti informasi belajar, (v) memberikan sistematika belajar, (vi) menampilkan contoh yang selektif, dan (vii) merangsang siswa berfikir analisis. Hal ini terkait dengan materi pelajaran biologi, yang dalam proses pembelajaran kadang sulit dipahami oleh siswa, untuk menjadikan materi pelajaran yang sulit dipahami menjadi jelas dengan mudah dipahami, maka guru menggunakan media pembelajaran.
Jadi berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi media dalam proses belajar mengajar yaitu dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan tidak membosankan serta memberikan variasi dalam belajar.
4. Hasil belajar
Menurut Danim (1995), belajar merupakan suatu proses yang berlangsung secara kontinyu, dari proses itu akan diperoleh sesuatu hasil yang disebut hasil belajar. Hudoyo (1990) memberikan batasan bahwa hasil belajar adalah proses berfikir menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian interaksi yang telah diperoleh Dimyati dan Modjiono (2002) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
Sasaran dari kegiatan belajar mengajar adalah hasil belajar. Apabila proses belajar mengajar berjalan dengan baik, maka hasil belajar juga baik, artinya hasil belajar harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pengajar dalam menyelesaikan suatu masalah dan sebagai pertimbangan dalam langkah selanjutnya. Adapun pengertian hasil belajar menurut Abdurrahman (1991) adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.
Sudjana (1989) mengungkapkan bahwa hasil belajar merupakan suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional telah dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil-hasil belajar yang diperlihatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang-bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Hasil belajar merupakan prestasi yang dicapai oleh murid dalam bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukuran keberhasilan belajar seseorang. Menurut Djamarah (1996), hasil belajar merupakan prestasi dan kesan-kesan yang diperoleh sehingga mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas dalam belajar. Berdasarkan pendapat tentang hasil belajar diatas maka kegiatan belajar mengajar dapat digunakan sebagai ukuran tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam bidang tertentu.
5. Pembelajaran Konsep Jamur Dalam KTSP
Konsep jamur yang dipelajari oleh siswa kelas X merupakan salah satu materi yang terdapat kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) kelas X semester I, standar kompotensi 2 memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup, dan pada kompetensi dasar 2.4 mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan dan kajian literatur serta perananya bagi kehidupan. Konsep ini cukup sulit dijelaskan oleh guru jika tidak menggunakan media pembelajaran. Hal ini disebabkan karena materi ini kebanyakan memuat hal-hal atau objek yang kurang jelas untuk diamati secara langsung.
Pada konsep ini membahas tentang ciri-ciri yang meliputi struktur tubuh, reproduksi dan daur hidup, jenis-jenis, serta klasifikasi dari jamur. Tanpa ada penjelasan dari guru mengenai penggunaan kartu indeks dan soal-soal terstruktur berbasis ICT, siswa akan kesulitan dalam memahami materi ini. Akibatnya presentasi atau materi yang disampaikan oleh guru tanpa menggunakan media tersebut akan membuat siswa merasa bosan sehingga akan berdampak pada hasil belajar yang rendah karena kurangnya pemahaman siswa.
Oleh karena itu sangat diperlukan adanya alat bantu dalam pembelajaran yaitu penggunaan media pengajaran visual dalam bentuk kartu indeks dan soal-soal terstruktur berbasis ICT. Media ini dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan objek pengamatan yang terlalu kecil dengan kata lain mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu. Selain itu penggunaan media ini akan menarik perhatian siswa dan membuat siswa tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sampai akhir jam pelajaran.
B. KERANGKA BERPIKIR
Salah satu hal yang dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang akan diajarkan adalah penyajian materi yang lebih menarik serta komunikatif, sehingga siswa dapat memahami materi pelajaran dengan baik. Oleh karena itu, pada saat mengajar, seorang guru sebaiknya kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran terutama dalam pembelajaran biologi. Salah satu sarana pembelajaran yang dapat digunakan adalah media pembelajaran yang tepat. Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengjara oleh guru dan dapat memotivasi siwa untuk belajar lebih aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan tidak membosankan serta memberikan variasi dalam belajar.
Media visual memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan dengan memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata sehingga menumbuhkan minat belajar siswa. Penggunaan media visual dalam bentuk media interaktif dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dengan objek pengamatan yang terlalu kecil atau dengan kata lain dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu. Selain itu penggunaan media interaktif dapat menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa karena memberikan pengalaman belajar tersendiri bagi siswa, baik berupa kesan penglihatan ataupun kesan pendengaran, sehingga bahan yang diajarkan mudah diingat dan dipahami.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan penulis, maka dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan media interaktif berbasis Information, Communication, and Technology (ICT) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba pada konsep Jamur.
B. Saran
1. Sebaiknya dalam menyajikan materi, diharapkan selektif dalam memilih media yang tepat sesuai dengan materi yang akan diajarkan sehingga siswa lebih termotivasi dalam proses belajar yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Media interaktif dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran Biologi untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pada hakekatnya program pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga member pemahaman dan penguasaan tentang “mengapa itu terjadi”. Berpijak dari permasalahan tersebut, maka pembelajaran pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk diajarkan.
Pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran adalah menghasilkan siswa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah yang dihadapi kelak di masyarakat. Untuk menghasilkan siswa yang memiliki kompotensi yang andal dalam pemecahan masalah, maka diperlukan serangkaian strategi pembelajaran pemecahan masalah. Berdasarkan kajian beberapa literatur terdapat berbagai strategi pembelajaran dalam pemecahan maslah yang kiranya dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang terjadi satu arah dalam dir siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masadepannya. Para ahli sependapat bahwa kemampuan memecahkan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan (Suharsono, 1991 dalam Muna, 2009, dalam I Nengah, 2010).
Mata pelajaran biologi sebagai bagian dari bidang sains, menuntut kompotensi belajar pada ranah pemahaman tingat tinggi yang komperehensif. Namun, dalam kenyataan saat ini siswa cendrung menghafal daripada memahami, padahal pemahaman merupakan modal dasar bagi penguasaan selanjutnya. Siswa dikatakan memahami apabila dapat menunjukkan unjuk kerja pemahaman tersebut pada tingkat kemampuan yang lebih tinggi, baik pada konteks yang sama maupun pada konteks yang berbeda (Gardner, 1999 dalam Muna, 2009 dalam I Nengah, 2010).
Pemahaham merupakan perangkat standard program pendidikan yang merefleksikan kompotensi sehingga dapat mengantarkan siswa untuk menjadi kompoten dalam berbagai bidang kehidupan (Yulaelawaty, 2002, dalam I Nengah, 2010). Sedangkan kompotensi seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan dijadikan titik tolak dari kurikulum berbasis kompotensi yang telah dikembangkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Dengan demikian pemahaman merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam belajar biologi. Belajar untuk pemahaman dalam bidang biologi harus dapat dipertimbangkan oleh para pendidik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan mata pelajaran. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka pembelajaran dengan pemecahan masalah menjadi hal yang sangat diperlukan dalam pembelajaran biologi. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunkaan adalah strategi pembelajaran inkuiri. Oleh sebab itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai strategi pembelajaran inkuiri.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang hendak dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimanakah konsep dasar strategi pembelajaran inkuiri (SPI) ?
2. Bagaimanakah prinsip-prinsip strategi pembelajaran inkuiri (SPI) ?
3. Bagaimanakah langkah-langkah strategi pembelajaran inkuiri (SPI) ?
4. Bagaimanakah strategi pembelajaran inkuiri biologi ?
5. Apakah kelemahan dan kelebihan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) ?
C. Tujuan
Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui konsep dasar strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
3. Untuk mengetahui langkah-langkah strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
4. Untuk mengetahui strategi pembelajaran inkuiri biologi
5. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
D. Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman penulis dan rekan-rekan mahasiswa mengenai strategi pembelajaran inkuiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui Tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan (Wina, 2010).
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri (Akhmad Sudrajat, 2008).
Joyce (Gulo, 2005, dalam Akhmad, 2008), mengemukakan kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi, (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan realibilitas tentang fakta sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis.
SPI berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakn kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indra pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan indra-indra lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunkan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakal didasari oleh keingintahuan itu. Dalam rangka itulah strategi inkuiri dikembangkan (Soekarto, 2010).
Menurut Wina (2010), ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, antara lain :
1. Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri daari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukansebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses Tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh sebab itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
3. Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian,dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal, namun sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran.
Tujuan utama pembelajaran melalui strategi inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.
Menurut Wina (2010), strategi pembelajaran inkuiri akan efektif manakala:
1. Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam strategi inkuiri penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses belajar.
2. Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak terbentu fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3. Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu
4. Jika guru mengjar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Strategi inkuiri akan kurang berhasil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.
5. Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6. Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok serta member kemudahan bagi kerja kelompok (Akhmad, 2008).
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis konstektual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri (Trianto, 2009).
B. Prinsip-prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
SPI merupakan strategi menekankan kepada pengembangan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) yaitu menurut Piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu maturation, physical, experience, social experience, dan equilibration (Wina, 2010).
Maturation atau kematangan adalah proses perubaha fisiologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem saraf. Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir (intelektual) anak. Otak bisa dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Menurut Sgelman dan Shaffer (1995), otak terdiri dari 100 miliar sel saraf (neuron) dan setiap sel saraf itu rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel-sel saraf lainnya. Neuron terdiri dari inti sel (nucleus) dan sel body yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel saraf yang stau ke sel saraf lainnya (Wina, 2010).
Physical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada dilingkungan sekitarnya. Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan individu memungkinkan dapat mengembangkan aktivitas/daya pikir. Gerakan-gerakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan bisa ditransfermenjadi gagasan-gagasan atau ide-ide. Oleh karena itu, proses belajar yang murni tak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman. Bagi Piaget, aksi atau tindakan adalah komponen dasar pengalaman (Wina, 2010).
Social experience adalah aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain. Melalui pengalaman social, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan atau mendengarkan pandangan orang lain, tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturan lain disamping aturannya sendiri. Ada dua aspek pengalaman social yang dapat membantu perkembangan intelektual. Pertama, pengalaman social akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa ini diperoleh melalui percakapan, diskusi, dan argumentasi dengan orang lain. Aktivitas-aktivitas semacam itu pada gilirannya dapat memunculkan pengalaman-pengalaman mental yang memungkinkan atau memaksa otak individu untuk bekerja. Kedua, melalui pengalaman social anak akan mengurangi egocentric-nya. Sedikit demi sedikit akan muncul keadaan bahwa ada orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya. Pengalaman semacam itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan konsep mental,moral, dan lain sebagainya (Wina, 2010).
Equilibration adalah proses penyesuaian antara pengetahuan baru yang ditemukannya. Adakala anak dituntut untuk memperbarui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi baru yang tidak sesuai.
Menurut Wina (2010), dalam penggunaan SPI terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru, yaitu :
1. Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemajuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juag berorientasi pada proses belajar. karena itu kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri buakn ditentukan oelh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Makna dari “sesuatu” yang harus ditemukan oelh siswa melalui proses berpikir adalah sesuatu yang dapat ditemukan, bukan sesuatu yang tidak pasti, oleh sebab itu setiap gagasan yang harus dikembangkan adalah gagasan yang dapat ditemukan.
2. Prinsip interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebgai pengaturlingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka. Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukan pekerjaan yang mudah. Sering guru terjebak oelh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya, interaksi hanya berlangsung antarsiswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja walupun pada kenyataan pemahaman siswa tentang substansi permasalahan yang dibicarakan sangat kurang; atau guru justru menanggalkan peran sebgai pengatur interaksi itu sendiri.
3. Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan SPI adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya suah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.
4. Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapibelajaradalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi sejumlah otak, baik otak kiri maupun otak kanan; baik otak reptile, otak limbic, maupun otak neokortek. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cendrung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukkan unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsure estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.
5. Prinsip keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipoteis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.
C. Langkah Pelaksanaan SPI
Menurut Trianto (2009), siklus inkuiri terdiri atas :
1. Observasi (Observation)
2. Bertanya (Questioning)
3. Mengajukan dugaan (Hypotesis)
4. Mengumpulkan data (Data gathering)
5. Penyimpulan (Conclusion)
Menurut Wina (2010), secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan SPI dapat mengikuti langkah sebagai berikut :
1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam strategi pembelajarn ekspositori (SPE) sebagailangkah untuk mengkondisikan agar siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan SPI sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah; tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancer. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah :
a. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
b. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
c. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi siswa.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan masalah teka teki itu. Dikatakan teka teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka teki yang menjadi masalah dalam inkuiri adalah teka teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya:
a. Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan memilikimotivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajaran, guru hanya memberikan topic yang akan dipelajari, sedangkan bagimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.
b. Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.
c. Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah. Jangan mengharapkan siswa dapat melakukan tahapan inkuiri lanjutnya, manakala ia belum paham konsep-konsep yang terkandung dalam rumusan masalah.
3. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalaha. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam startegi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala siswa tidak apresiasif terhadapa pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidakbergairahan dalam belajar. manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui pentuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga terangsang untuk berpikir.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumplan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yangdiberikakn. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan aalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebakan kesimpulan yang dirumuskan tidak focus terhadap malah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Menurut Syaiful (2003), kata kunci dari strategi inkuiri adalah siswa menemukan sendiri, adapun langkah-langkah kegiatan inkuiri adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan masalah
2. Mengamati atau melakukan observasi
3. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, table, dan karya lainnya; dan
4. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audiensi yang lain.
D. Strategi pembelajaran Inkuiri Biologi
Proses pembelajaran berjalan secara optimal perlu adanya pembuatan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Arthur L. Costa , (1985, dalam trianto, 2007) merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kemp (1995, dalam Sanjaya 2009) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas, Dick dan Care(1985, dalam Sanjaya 2009) mendefenisikan strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkanhasil belajar pada siswa. Jadi strategi pembelajaran merupakan teori perspektif yang berperan sebagai fasilitas untuk mencapai tujuan belajar (I Nengah, 2010).
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan teori perspektif yang menggunakan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk memahami bagaimana melakukan dan bagaimana menggunakan pemahaman tersebut dalam mendeskripsikan fenomena, memformulasikan hipotesis, dan menguji hipotesis. Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang dipertanyakan (Sanjaya, 2009). Senada dengan pendapat diatas (Gulo, 2002 dalam Trianto, 2007) menyatakan strategi pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Jadi inkuiri berkaitan dengan penemuan sendiri dalam pembelajaran (I Nengah, 2010).
Menurut I Nengah (2010), digunakannya model pembelajaran inkuiri biologi (biological science inquiry model), dalam pembelajaran didasari atas berbagai pertimbangan, yaitu sebagai berikut :
a. Model pembelajaran ini khusus dirancang hanya untuk pelajaran biologi dan dalam beberapa hasil penelitian telah terbukti meningkatkan hasil belajar siswa (Joice dan Well, 1992).
b. Model pembelajaran inkuiri biologi, memiliki prosedur dan langkah-langkah yang sistematis sehingga mudah diterapkan oleh guru.
c. Model pembelajaran inkuiri biologi dirancang dengan memadukan ketepatan strategi pembelajaran dengan cara otak bekerja selama proses pembelajaran.
Strategi pembelajaran inkuiri biologi pada mulanya dikembangkan oleh Schwab tahun 1965 yang termuat dalam Biological Science Curriculum Study (BSCS), dan membahas tentang pengembangan kurikulum dan bentuk pembelajaran biologi pada sekolah menengah (Joice dan Well, 1992 dalam Muna, 2009). Esensi dari strategi pembelajaran ini adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian. Sehingga prosedurnya melibatkan siswa dalam menyelidiki masalah yang sebenarnya dengan cara melibatkan dalam penelitian, membantu siswa mengidentifikasi konsep atau metode, dan mendorong siswa menemukan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi (I Nengah, 2010).
Teknik-teknik penilaian untuk mengukur aktivitas strategi pembelajaran inkuiri biologi hendaknya bersifat lentur dan lebih bervariasi. Dalam hal ini, penilaian lebih ditujuakan pada mengakses proses pembelajaran. Seba itu, lebih banyak digunakan data subjektif untuk menilai pertumbuhan peserta didik. Bentuk-bnetuk assessment yang dapat digunakan dalam penilaian dapat berupa pengamatan unjuk kerja, laporan hasil pemecahan masalah, laporan proyek, tes dan lain-lain (I Nengah, 2010).
Strategi pembelajaran inkuri biologi memiliki empat langkah pembelajaran (Joice dan Well, 1992 dalam Muna, 2009 dalam I Nengah, 2010). Langkah-langkah tersebut adalah : investigasi, penentuan masalah, identifikasi masalah, dan penyimpulan/penyelesaian masalah. Oprasional tiap langkah dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut :
No
Tahapan Pembelajaran
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
1
Investigasi
- Memberikan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran siswa
- Mendorong dan membimbing siswa melakukan pengkajian/investigasi terhadap permasalahan
- Mendorong siswa aktif berpikir, belajar dan mencipta, serta mengeksplorasi.
- Mendorong siswa melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada, mengumpulkan data, mengkaji dan mengkalsifikasi data.
- Membaca permasalahan secara umum
- Menganalisis masalah
- Mengumpulkan data
- Melakukan pengkajian/investigasi terhadap permasalahan
- Mencipta dan mengeksplorasi.
- Melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada.
- Mengumpulkan data, mengkaji, mengklarifikasikan data, dan sejenisnya.
2
Penentuan Masalah
- Membimbing dan mengarahkan siswa untuk menentukan masalah sesuai dengan jenisnya.
- Membantu siswa untuk melihat keterkaitan antara kelompok/jenis masalah serta membuat pohon permasalahan dan jenisnya.
- Memverifikasi dan memetakan data
- Menentukan masalah sesuai dengan data.
- Melihat keterkaitan antara kelompok/jenis masalah dan membuat pohon permasalahan dan sejenisnya
3
Identifikasi Masalah
- Membantu siswa melakukan identifikasi dan verifikasi permasalahan, mengembangkan hipotesis.
- Mendorong siswa mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
- Mendorong siswa mengembangkan kesimpulan sementara.
- Melakukan identifikasi permasalahan, mengembangkan hipotesis mencari berbagai alternatif pemecahan dan pengembangan kesimpulan sementara
- Mengembangkan hipotesis
- Mencari berbagai alaternatif pemecahan masalah
- Mengembangkan kesimpulan sementara.
4
Penyimpulan/ Penyelesaian Masalah
- Mendorong siswa untuk mencari pemecahan masalah yang tepat
- Membimbing siswa menganalisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat
- Membimbing dan membantu siswa menetapkan suatu kesimpulan yang paling tepat.
- Menyimpulkan pemecahan masalah yang paling baik dan tepat untuk menyelesaikan masalah
- Menganalisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat.
- Menetapkan kesimpulan yang paling tepat.
E. Kesulitan-kesulitan Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Menurut Wina (2010), SPI merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dianggap baru khususnya di Indonesia. Sebagai suatu strategi baru, dalam penerapannya terhadap kesulitan.
Pertama, SPI merupakan stratergi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang bersandarankan kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar. selama ini guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses menyampaikan informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyaj yang merasa keberatan untuk mengubah pola mengajarnya. Bahkan ada guru yang menganggap SPI sebagai strategi yang tidak mungkn dapt diterapkan karena tidak sesuai dengan budaya dan sistem pendidikan di Indonesia. Memang untuk mengubah suatu kebiasaan bukanlah pekerjaan mudah, apalagi sifat guru yang cendrung konvensional, sulit untuk menerima pembaruan-pembaruan (Wina, 2010).
Kedua, sejak lama tertanam dalam budaya belajar siwa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru, dengan demikian bagi guru adalah sumber belajar yang utama. Karena budaya belajar semacam itu sudah terbentuk menjadi kebiasaan, maka aka sulit mengubah pola belajar mereka dengan menjadikan belajar sebagai proses berpikir. Mereka akan sulit manakala disuruh untuk bertanya. Demikian juga dalam menjawab pertanyaan. Mereka akan mengalami kesulitan untuk menjawab setiap pertanyaan, walaupun pertanyaan itu sangat sederhana. Biasanya siswa memerlukan waktu yang cukup lama untuk merumuskan jawaban dari suatu pertanyaan (Wina, 2010).
Ketiga, berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Misalnya, sistem pendidikan menganjurkan bahwa proses pembelajaran sebaiknya menggunakan pola pembelajaranyang dapat mengembangkan kemampuan berpikir melalui pendekatan student active learning atau yang kita kenal dengan CBSA atau melalui anjuran penggunaan kurikulum berbasis kompotensi (KBK), namun dilain pihak sistem evaluasi yang masih digunakan misalnya sistem ujian akhir nasional (UAN) berorientasi pada pengembangan aspek kognitif. Tentu saja hal ini bisa menambah kebingungan guru sebagai pelaksana di lapangan. Guru akan mendua hati, apakah ia akan melaksanakan pola pembelajaran dengan menggunakan inkuiri sebagai strategi pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, atau akan mengembankan pola pembelajaran yang diarahkan agar siswa dapat mengerjakan atau menjawab soal-soal hafalan (Wina, 2010).
F. Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Menurut Wina (2010), adapun keunggulan dan kelemahan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) yaitu :
1. Keunggulan
SPI merupakan strategi pembelaaran yang banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
a. SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b. SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
c. SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
2. Kelemahan
Disamping memiliki keunggulan, SPI juga mempunyai kelemahan, diantaranya :
a. Jika SPI digunkan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d. Selama kriteria keberhasilan belajar ditemukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam penulisan makalah ini, yaitu :
1. Strategi pembelajaran inkuiri adalah alternatif strategi pembelajaran yang inovatif. Esensi dari stregi pembelajaran ini adalah mengajarkan pada siswa untuk memproleh pengetahuan seperti halnya para peneliti iologi melakukan penelitian atau adanya orientasi pembelajaran dari yang semula berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pebelajar. Model pembelajaran inkuiri memberikan peluang pada siswa untuk memecahkan permasalahan dan mengambil keputusan melalui proses berpikir dalam pemoresesan informasi.
2. Strategi pembelajaran inkuiri dapat dilaksanakan dengan tahapan pembelajaran, yaitu investigasi, penentuan masalah, identifikasi masalah, penyimpulan/penyelesaian masalah.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada mahasiswa agar dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Penerbit Alfabeta.
Bandung.
Suarta, I Nengah. 2010. Implementasi Strategi Inkuiri Biologi.
http://smandapura.schid/index.php/option=com_content
&view=article&id=77implementasi –strategi-inkuiri-
biologi&catid=37.majalah-pendidikan&itemid=58.
Diakses tanggal 28 Oktober 2010
Sudrajat, Akhmad. 2008. Strategi Pembelajaran.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/02/strategi _pembelajaran/. Diakses tanggal 28 Oktober 2010.
Sukarto. 2010. Strategi Pembelajaran Inkuiri.
http://suksesbersamasukarto.blogspot.com/2010/03/strategi -pembelajaran-inkuiri-spi.html. Diakses tanggal 28 Oktober 2010.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Kencana
Prenada Media Group. Jakarta.
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pada hakekatnya program pembelajaran bertujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa dan bagaimana suatu terjadi, tetapi juga member pemahaman dan penguasaan tentang “mengapa itu terjadi”. Berpijak dari permasalahan tersebut, maka pembelajaran pemecahan masalah menjadi sangat penting untuk diajarkan.
Pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran adalah menghasilkan siswa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah yang dihadapi kelak di masyarakat. Untuk menghasilkan siswa yang memiliki kompotensi yang andal dalam pemecahan masalah, maka diperlukan serangkaian strategi pembelajaran pemecahan masalah. Berdasarkan kajian beberapa literatur terdapat berbagai strategi pembelajaran dalam pemecahan maslah yang kiranya dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Proses yang dimaksud bukan dilihat sebagai perolehan informasi yang terjadi satu arah dalam dir siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masadepannya. Para ahli sependapat bahwa kemampuan memecahkan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan (Suharsono, 1991 dalam Muna, 2009, dalam I Nengah, 2010).
Mata pelajaran biologi sebagai bagian dari bidang sains, menuntut kompotensi belajar pada ranah pemahaman tingat tinggi yang komperehensif. Namun, dalam kenyataan saat ini siswa cendrung menghafal daripada memahami, padahal pemahaman merupakan modal dasar bagi penguasaan selanjutnya. Siswa dikatakan memahami apabila dapat menunjukkan unjuk kerja pemahaman tersebut pada tingkat kemampuan yang lebih tinggi, baik pada konteks yang sama maupun pada konteks yang berbeda (Gardner, 1999 dalam Muna, 2009 dalam I Nengah, 2010).
Pemahaham merupakan perangkat standard program pendidikan yang merefleksikan kompotensi sehingga dapat mengantarkan siswa untuk menjadi kompoten dalam berbagai bidang kehidupan (Yulaelawaty, 2002, dalam I Nengah, 2010). Sedangkan kompotensi seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan dijadikan titik tolak dari kurikulum berbasis kompotensi yang telah dikembangkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Dengan demikian pemahaman merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam belajar biologi. Belajar untuk pemahaman dalam bidang biologi harus dapat dipertimbangkan oleh para pendidik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan mata pelajaran. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka pembelajaran dengan pemecahan masalah menjadi hal yang sangat diperlukan dalam pembelajaran biologi. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunkaan adalah strategi pembelajaran inkuiri. Oleh sebab itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai strategi pembelajaran inkuiri.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang hendak dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimanakah konsep dasar strategi pembelajaran inkuiri (SPI) ?
2. Bagaimanakah prinsip-prinsip strategi pembelajaran inkuiri (SPI) ?
3. Bagaimanakah langkah-langkah strategi pembelajaran inkuiri (SPI) ?
4. Bagaimanakah strategi pembelajaran inkuiri biologi ?
5. Apakah kelemahan dan kelebihan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) ?
C. Tujuan
Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui konsep dasar strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
3. Untuk mengetahui langkah-langkah strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
4. Untuk mengetahui strategi pembelajaran inkuiri biologi
5. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
D. Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman penulis dan rekan-rekan mahasiswa mengenai strategi pembelajaran inkuiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui Tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan (Wina, 2010).
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri (Akhmad Sudrajat, 2008).
Joyce (Gulo, 2005, dalam Akhmad, 2008), mengemukakan kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi, (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan realibilitas tentang fakta sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis.
SPI berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakn kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indra pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan indra-indra lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunkan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakal didasari oleh keingintahuan itu. Dalam rangka itulah strategi inkuiri dikembangkan (Soekarto, 2010).
Menurut Wina (2010), ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, antara lain :
1. Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri daari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukansebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses Tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh sebab itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
3. Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian,dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal, namun sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran.
Tujuan utama pembelajaran melalui strategi inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.
Menurut Wina (2010), strategi pembelajaran inkuiri akan efektif manakala:
1. Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam strategi inkuiri penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses belajar.
2. Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak terbentu fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3. Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu
4. Jika guru mengjar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Strategi inkuiri akan kurang berhasil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.
5. Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6. Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok serta member kemudahan bagi kerja kelompok (Akhmad, 2008).
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis konstektual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri (Trianto, 2009).
B. Prinsip-prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
SPI merupakan strategi menekankan kepada pengembangan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) yaitu menurut Piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu maturation, physical, experience, social experience, dan equilibration (Wina, 2010).
Maturation atau kematangan adalah proses perubaha fisiologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem saraf. Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir (intelektual) anak. Otak bisa dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Menurut Sgelman dan Shaffer (1995), otak terdiri dari 100 miliar sel saraf (neuron) dan setiap sel saraf itu rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel-sel saraf lainnya. Neuron terdiri dari inti sel (nucleus) dan sel body yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel saraf yang stau ke sel saraf lainnya (Wina, 2010).
Physical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada dilingkungan sekitarnya. Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan individu memungkinkan dapat mengembangkan aktivitas/daya pikir. Gerakan-gerakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan bisa ditransfermenjadi gagasan-gagasan atau ide-ide. Oleh karena itu, proses belajar yang murni tak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman. Bagi Piaget, aksi atau tindakan adalah komponen dasar pengalaman (Wina, 2010).
Social experience adalah aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain. Melalui pengalaman social, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan atau mendengarkan pandangan orang lain, tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturan lain disamping aturannya sendiri. Ada dua aspek pengalaman social yang dapat membantu perkembangan intelektual. Pertama, pengalaman social akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa ini diperoleh melalui percakapan, diskusi, dan argumentasi dengan orang lain. Aktivitas-aktivitas semacam itu pada gilirannya dapat memunculkan pengalaman-pengalaman mental yang memungkinkan atau memaksa otak individu untuk bekerja. Kedua, melalui pengalaman social anak akan mengurangi egocentric-nya. Sedikit demi sedikit akan muncul keadaan bahwa ada orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya. Pengalaman semacam itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan konsep mental,moral, dan lain sebagainya (Wina, 2010).
Equilibration adalah proses penyesuaian antara pengetahuan baru yang ditemukannya. Adakala anak dituntut untuk memperbarui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi baru yang tidak sesuai.
Menurut Wina (2010), dalam penggunaan SPI terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru, yaitu :
1. Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemajuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juag berorientasi pada proses belajar. karena itu kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri buakn ditentukan oelh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Makna dari “sesuatu” yang harus ditemukan oelh siswa melalui proses berpikir adalah sesuatu yang dapat ditemukan, bukan sesuatu yang tidak pasti, oleh sebab itu setiap gagasan yang harus dikembangkan adalah gagasan yang dapat ditemukan.
2. Prinsip interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebgai pengaturlingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka. Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukan pekerjaan yang mudah. Sering guru terjebak oelh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya, interaksi hanya berlangsung antarsiswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja walupun pada kenyataan pemahaman siswa tentang substansi permasalahan yang dibicarakan sangat kurang; atau guru justru menanggalkan peran sebgai pengatur interaksi itu sendiri.
3. Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan SPI adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya suah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.
4. Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapibelajaradalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi sejumlah otak, baik otak kiri maupun otak kanan; baik otak reptile, otak limbic, maupun otak neokortek. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cendrung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukkan unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsure estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.
5. Prinsip keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipoteis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.
C. Langkah Pelaksanaan SPI
Menurut Trianto (2009), siklus inkuiri terdiri atas :
1. Observasi (Observation)
2. Bertanya (Questioning)
3. Mengajukan dugaan (Hypotesis)
4. Mengumpulkan data (Data gathering)
5. Penyimpulan (Conclusion)
Menurut Wina (2010), secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan SPI dapat mengikuti langkah sebagai berikut :
1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam strategi pembelajarn ekspositori (SPE) sebagailangkah untuk mengkondisikan agar siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan SPI sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah; tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancer. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah :
a. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
b. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
c. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi siswa.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan masalah teka teki itu. Dikatakan teka teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka teki yang menjadi masalah dalam inkuiri adalah teka teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya:
a. Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan memilikimotivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajaran, guru hanya memberikan topic yang akan dipelajari, sedangkan bagimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.
b. Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.
c. Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah. Jangan mengharapkan siswa dapat melakukan tahapan inkuiri lanjutnya, manakala ia belum paham konsep-konsep yang terkandung dalam rumusan masalah.
3. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalaha. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam startegi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala siswa tidak apresiasif terhadapa pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidakbergairahan dalam belajar. manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui pentuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga terangsang untuk berpikir.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumplan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yangdiberikakn. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan aalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebakan kesimpulan yang dirumuskan tidak focus terhadap malah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Menurut Syaiful (2003), kata kunci dari strategi inkuiri adalah siswa menemukan sendiri, adapun langkah-langkah kegiatan inkuiri adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan masalah
2. Mengamati atau melakukan observasi
3. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, table, dan karya lainnya; dan
4. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audiensi yang lain.
D. Strategi pembelajaran Inkuiri Biologi
Proses pembelajaran berjalan secara optimal perlu adanya pembuatan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Arthur L. Costa , (1985, dalam trianto, 2007) merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kemp (1995, dalam Sanjaya 2009) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas, Dick dan Care(1985, dalam Sanjaya 2009) mendefenisikan strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkanhasil belajar pada siswa. Jadi strategi pembelajaran merupakan teori perspektif yang berperan sebagai fasilitas untuk mencapai tujuan belajar (I Nengah, 2010).
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan teori perspektif yang menggunakan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk memahami bagaimana melakukan dan bagaimana menggunakan pemahaman tersebut dalam mendeskripsikan fenomena, memformulasikan hipotesis, dan menguji hipotesis. Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang dipertanyakan (Sanjaya, 2009). Senada dengan pendapat diatas (Gulo, 2002 dalam Trianto, 2007) menyatakan strategi pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Jadi inkuiri berkaitan dengan penemuan sendiri dalam pembelajaran (I Nengah, 2010).
Menurut I Nengah (2010), digunakannya model pembelajaran inkuiri biologi (biological science inquiry model), dalam pembelajaran didasari atas berbagai pertimbangan, yaitu sebagai berikut :
a. Model pembelajaran ini khusus dirancang hanya untuk pelajaran biologi dan dalam beberapa hasil penelitian telah terbukti meningkatkan hasil belajar siswa (Joice dan Well, 1992).
b. Model pembelajaran inkuiri biologi, memiliki prosedur dan langkah-langkah yang sistematis sehingga mudah diterapkan oleh guru.
c. Model pembelajaran inkuiri biologi dirancang dengan memadukan ketepatan strategi pembelajaran dengan cara otak bekerja selama proses pembelajaran.
Strategi pembelajaran inkuiri biologi pada mulanya dikembangkan oleh Schwab tahun 1965 yang termuat dalam Biological Science Curriculum Study (BSCS), dan membahas tentang pengembangan kurikulum dan bentuk pembelajaran biologi pada sekolah menengah (Joice dan Well, 1992 dalam Muna, 2009). Esensi dari strategi pembelajaran ini adalah mengajarkan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan seperti halnya para peneliti biologi melakukan penelitian. Sehingga prosedurnya melibatkan siswa dalam menyelidiki masalah yang sebenarnya dengan cara melibatkan dalam penelitian, membantu siswa mengidentifikasi konsep atau metode, dan mendorong siswa menemukan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi (I Nengah, 2010).
Teknik-teknik penilaian untuk mengukur aktivitas strategi pembelajaran inkuiri biologi hendaknya bersifat lentur dan lebih bervariasi. Dalam hal ini, penilaian lebih ditujuakan pada mengakses proses pembelajaran. Seba itu, lebih banyak digunakan data subjektif untuk menilai pertumbuhan peserta didik. Bentuk-bnetuk assessment yang dapat digunakan dalam penilaian dapat berupa pengamatan unjuk kerja, laporan hasil pemecahan masalah, laporan proyek, tes dan lain-lain (I Nengah, 2010).
Strategi pembelajaran inkuri biologi memiliki empat langkah pembelajaran (Joice dan Well, 1992 dalam Muna, 2009 dalam I Nengah, 2010). Langkah-langkah tersebut adalah : investigasi, penentuan masalah, identifikasi masalah, dan penyimpulan/penyelesaian masalah. Oprasional tiap langkah dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut :
No
Tahapan Pembelajaran
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
1
Investigasi
- Memberikan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran siswa
- Mendorong dan membimbing siswa melakukan pengkajian/investigasi terhadap permasalahan
- Mendorong siswa aktif berpikir, belajar dan mencipta, serta mengeksplorasi.
- Mendorong siswa melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada, mengumpulkan data, mengkaji dan mengkalsifikasi data.
- Membaca permasalahan secara umum
- Menganalisis masalah
- Mengumpulkan data
- Melakukan pengkajian/investigasi terhadap permasalahan
- Mencipta dan mengeksplorasi.
- Melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap permasalahan yang ada.
- Mengumpulkan data, mengkaji, mengklarifikasikan data, dan sejenisnya.
2
Penentuan Masalah
- Membimbing dan mengarahkan siswa untuk menentukan masalah sesuai dengan jenisnya.
- Membantu siswa untuk melihat keterkaitan antara kelompok/jenis masalah serta membuat pohon permasalahan dan jenisnya.
- Memverifikasi dan memetakan data
- Menentukan masalah sesuai dengan data.
- Melihat keterkaitan antara kelompok/jenis masalah dan membuat pohon permasalahan dan sejenisnya
3
Identifikasi Masalah
- Membantu siswa melakukan identifikasi dan verifikasi permasalahan, mengembangkan hipotesis.
- Mendorong siswa mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
- Mendorong siswa mengembangkan kesimpulan sementara.
- Melakukan identifikasi permasalahan, mengembangkan hipotesis mencari berbagai alternatif pemecahan dan pengembangan kesimpulan sementara
- Mengembangkan hipotesis
- Mencari berbagai alaternatif pemecahan masalah
- Mengembangkan kesimpulan sementara.
4
Penyimpulan/ Penyelesaian Masalah
- Mendorong siswa untuk mencari pemecahan masalah yang tepat
- Membimbing siswa menganalisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat
- Membimbing dan membantu siswa menetapkan suatu kesimpulan yang paling tepat.
- Menyimpulkan pemecahan masalah yang paling baik dan tepat untuk menyelesaikan masalah
- Menganalisis (kelemahan dan kekuatan) berbagai kesimpulan yang telah dibuat.
- Menetapkan kesimpulan yang paling tepat.
E. Kesulitan-kesulitan Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Menurut Wina (2010), SPI merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dianggap baru khususnya di Indonesia. Sebagai suatu strategi baru, dalam penerapannya terhadap kesulitan.
Pertama, SPI merupakan stratergi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang bersandarankan kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar. selama ini guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses menyampaikan informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyaj yang merasa keberatan untuk mengubah pola mengajarnya. Bahkan ada guru yang menganggap SPI sebagai strategi yang tidak mungkn dapt diterapkan karena tidak sesuai dengan budaya dan sistem pendidikan di Indonesia. Memang untuk mengubah suatu kebiasaan bukanlah pekerjaan mudah, apalagi sifat guru yang cendrung konvensional, sulit untuk menerima pembaruan-pembaruan (Wina, 2010).
Kedua, sejak lama tertanam dalam budaya belajar siwa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru, dengan demikian bagi guru adalah sumber belajar yang utama. Karena budaya belajar semacam itu sudah terbentuk menjadi kebiasaan, maka aka sulit mengubah pola belajar mereka dengan menjadikan belajar sebagai proses berpikir. Mereka akan sulit manakala disuruh untuk bertanya. Demikian juga dalam menjawab pertanyaan. Mereka akan mengalami kesulitan untuk menjawab setiap pertanyaan, walaupun pertanyaan itu sangat sederhana. Biasanya siswa memerlukan waktu yang cukup lama untuk merumuskan jawaban dari suatu pertanyaan (Wina, 2010).
Ketiga, berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Misalnya, sistem pendidikan menganjurkan bahwa proses pembelajaran sebaiknya menggunakan pola pembelajaranyang dapat mengembangkan kemampuan berpikir melalui pendekatan student active learning atau yang kita kenal dengan CBSA atau melalui anjuran penggunaan kurikulum berbasis kompotensi (KBK), namun dilain pihak sistem evaluasi yang masih digunakan misalnya sistem ujian akhir nasional (UAN) berorientasi pada pengembangan aspek kognitif. Tentu saja hal ini bisa menambah kebingungan guru sebagai pelaksana di lapangan. Guru akan mendua hati, apakah ia akan melaksanakan pola pembelajaran dengan menggunakan inkuiri sebagai strategi pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, atau akan mengembankan pola pembelajaran yang diarahkan agar siswa dapat mengerjakan atau menjawab soal-soal hafalan (Wina, 2010).
F. Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Menurut Wina (2010), adapun keunggulan dan kelemahan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) yaitu :
1. Keunggulan
SPI merupakan strategi pembelaaran yang banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
a. SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b. SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
c. SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
2. Kelemahan
Disamping memiliki keunggulan, SPI juga mempunyai kelemahan, diantaranya :
a. Jika SPI digunkan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d. Selama kriteria keberhasilan belajar ditemukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam penulisan makalah ini, yaitu :
1. Strategi pembelajaran inkuiri adalah alternatif strategi pembelajaran yang inovatif. Esensi dari stregi pembelajaran ini adalah mengajarkan pada siswa untuk memproleh pengetahuan seperti halnya para peneliti iologi melakukan penelitian atau adanya orientasi pembelajaran dari yang semula berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pebelajar. Model pembelajaran inkuiri memberikan peluang pada siswa untuk memecahkan permasalahan dan mengambil keputusan melalui proses berpikir dalam pemoresesan informasi.
2. Strategi pembelajaran inkuiri dapat dilaksanakan dengan tahapan pembelajaran, yaitu investigasi, penentuan masalah, identifikasi masalah, penyimpulan/penyelesaian masalah.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada mahasiswa agar dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai strategi pembelajaran inkuiri (SPI)
DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Penerbit Alfabeta.
Bandung.
Suarta, I Nengah. 2010. Implementasi Strategi Inkuiri Biologi.
http://smandapura.schid/index.php/option=com_content
&view=article&id=77implementasi –strategi-inkuiri-
biologi&catid=37.majalah-pendidikan&itemid=58.
Diakses tanggal 28 Oktober 2010
Sudrajat, Akhmad. 2008. Strategi Pembelajaran.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/02/strategi _pembelajaran/. Diakses tanggal 28 Oktober 2010.
Sukarto. 2010. Strategi Pembelajaran Inkuiri.
http://suksesbersamasukarto.blogspot.com/2010/03/strategi -pembelajaran-inkuiri-spi.html. Diakses tanggal 28 Oktober 2010.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Kencana
Prenada Media Group. Jakarta.
Subscribe to:
Posts (Atom)